Anti Histamin

Perawatankesehatan.com – Histamin adalah suatu amin nabati dan merupakan produk biasa dari pertukaran zat asam-amino hstidin secara enzinmatis [1]. Fungsi histamin adalah untuk perlindungan tubuh. Histamin terdapat hampir di semua organ dan jaringan dalam keadaan terikat dan inaktif. Misalnya selaput lendir mata, hidung dan saluran pernafasan, bibir dan kulit, juga dalam sel darah putih (leukosit) dalam darah. Di dalam otak dan darah, histamin juga terdapat dalam kondisi bebas aktif (Kadar normal + 50 mcg/t).

Histamin dapat dibebaskan oleh sebagai berikut:

  1. Reaksi alergi (gatal-gatal).
  2. Kecelakaan dengan luka yang berat.
  3. Sinar UV matahari (kemerahan).
  4. Racun ular dan tawon (radang/bengkak).
  5. Tubokurarin.

Bila kadar histamin tinggi melebihi batas normal, maka akan terjadi:

  1. Kontraksi dari otot-otot polos bronkus, usus, dan rahim.
  2. Memperbesar permeabilitas kapiler, akibatnya bengkak dan pengembangan mukosa.
  3. Memperkuat sekresi kelenjar ludah, air mata, dan asam lambung.
  4. Stimulasi ujung-ujung saraf, seperti gatal-gatal (alergi, biduren).

Fungsi histamin bagi tubuh belum kita ketahui secara pasti, tetapi karena dalam tubuh terdapatnya pada sel-sel permukaan, maka mengidentifikasikan bahwa histamin memegang peran dalam sistem penangkis terhadap masuknya zat-zat asing (dia akan memberikan sinyal, misalnya makan udang terasa gatal-gatal).

anti histamin

 

Anti Histamin.

Anti histamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin yang berlebihan atas tubuh dengan jalan memblok reseptor-reseptor histamin [1]. Terdapat dua anti histamin, yaitu sebagai berikut:

 

1. H1 Blocker/anti histamin H1/AH1.

Anti histamin ini bekerja dengan cara memblok reseptor H1 yang terdapat pada pembuluh darah, bronkus, dan bermacam-macam otot polos. Biasanya digunakan untuk pasien alergi.

Anti histamin H1 memberikan efek terhadap penciutan bronkus, usus, dan rahim, terhadap ujung saraf (gatal) dan sebagian untuk sistem pembuluh (vasodilatasi dan naiknya permeabilitas).

AH1 efektif untuk mengobati reaksi hipersensitifitas atau kondisi lain yang disertai dengan penglepasan histamin endogen berlebihan.

AH1 di indikasikan untuk pengobatan simptomatik berbagai penyakit alergi serta untuk mencegah atau mengurangi mabuk perjalanan.

Contoh AH1 diantaranya adalah golongan etanolamin, etilendiamin, alkila piperazin, penotiazin, dan piperidin.

Efek samping AH1.

  • Paling sering adalah efek sedatif hipnotik (mengantuk) karena akibat depresi susunan saraf pusat (SSP).
  • Efek sentral, seperti pusing, gelisah, rasa letih, lesu dan tremor.
  • Gangguan lambung dan usus, seperti mual, muntah, diare hingga anoreksia dan obstipasi. Tetapi, dapat diatasi dengan menelan obat setelah makan.
  • Efek kolinergik, seperti mulut kering, gangguan penglihatan, gangguan lambung dan usus, obstipasi, dan retensi urine.
  • Efek teratogen hanya terbukti pada hewan percobaan.

Kontra indikasi AH1 adalah wanita hamil, pasien dengan glaukoma dan hipertofi.

 

2. H2 Blocker/Anti histamin H2 / AH2.

Anti histamin ini bekerja untuk dengan memblok reseptor H2 yang terdapat pada lambung, jantung, dan pembuluh darah.

AH2 memberikan efek terhadap hiperekskresi HCI lambung, perangsangan jantung dan untuk sebagian terhadap vasodilatasi dan turunnya tekanan darah. AH2 juga menghambat secara spesifik dan selektif efek histamin terhadap reseptor H2 di lambung.

AH2 di indikasikan untuk pengobatan ulkus peptikum dan usus, karena menurunnya sekresi HCI dan pepsin.

Contoh AH2 antara lain adalah simetidin, ranitidin, famotidin (3x > poten dari ranitidin dan 20x > poten dari simetidin).

Efek samping AH2 diantaranya adalah pusing, nyeri kepala, mual, diare, sulit buang air besar (konstipasi), ruam kulit, dan pruritis.

 

Referensi.

  1. Materi kuliah Farmakologi. Akper Muhammadiyah Kendal. 2009.

 

Baca juga selanjutnya: obat batuk berdahak dan batuk kering.

Reply