Pemasangan EKG (Elektrokardiogram)

PerawatanKesehatan.com – EKG (Elektrokardiogram) adalah rekaman potensial listrik (tegangan) yang timbul sebagai akibat aktivitas jantung, yang dapat direkam adalah aktivitas listrik yang timbul pada waktu otot-otot jantung berkontraksi [1]. Pemasangan EKG dianjurkan untuk pasien trauma atau memiliki riwayat gangguan/kelainan jantung. Tujuan pemasangan EKG adalah untuk mengetahui keadaan irama jantung. Untuk mendapatkan rekaman irama jantung, maka harus dipasang elektroda-elektroda di kulit pada tempat-tempat tertentu. Tempat dan cara pemasangan EKG yang benar harus diperhatian, karena penempatan yang salah akan memperoleh hasil pencatatan yang berbeda.

 

Cara Pemasangan EKG (Elektrokardiogram).

Pemasangan EKG pada tubuh menggunakan 10 buah elektroda, yaitu 4 buah elektroda pada ektremitas (tangan dan kaki) dan 6 buah elektroda prekordial (permukaan dada).

Tempat pemasangan 4 buah elektroda pada tangan dan kaki.

Elektroda-elektroda masing-masing dilekatkan pada:
Lengan kanan (LKa).
Lengan kiri (LKi).
Tungkai kanan (TKa).
Tungkai kiri (TKi).

Pada elektroda TKa selalu dihubungkan dengan bumi untuk menjamin potensial nol yang stabil.

Pemasangan EKG

Gambar 1. Contoh pemasangan elektroda ektremitas.

Tempat pemasangan 6 buah elektroda pada permukaan dada.
Eletroda-elektroda prekordial diberi nama V1 sampai V6 (standar kita), masing-masing dipasang pada dinding dada.
V1 = Sela iga ke-4 garis pada sternal kanan.
V2 = Sela iga ke-4 garis pada sternal kiri.
V3 = Antara V2 dan V4. (pasang V4 dulu).
V4 = Sela iga ke-5 garis klavikula tengah kiri.
V5 = Sejajar dengan V4 pada garis aksila tengah kiri.
V6 = Sejajar dengan V4 pada garis skapula kiri. [2]

Prekordial

Gambar 2. Contoh pemasangan elektroda prekordial.

 

Hasil pemasangan EKG biasanya dibuat pada kertas yang berjalan dengan kecepatan baku 25 mm per detik dan defleksi 10 mm.

Hingga saat ini, pemeriksaan jantung tanpa disertai pemeriksaan EKG dianggap kurang lengkap. Terdapat beberapa gangguan jantung sering ditemukan hanya berdasarkan pemeriksaan EKG saja. Tetapi, janganlah memberikan penilaian yang berlebihan pada hasil rekaman EKG dengan mengabaikan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Karena kondisi fisik seseorang harus diperhatikan sepenuhnya, seperti jenis keIamin, usia, berat badan, tekanan darah, obat-obatan yang dipakai, dan lain sebagainya.

 

Referensi.

  1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Jantung. Edisi ke-4. Jilid ke-3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI.
  2. Modul BTCLS. Edisi revisi. AGD Dinkes Provinsi DKI Jakarta. 2012.

Baca juga selanjutnya: Indeks massa menurut WHO dan Asia Pasifik.

Reply