Tes Kesehatan (Medical Check up)

PerawatanKesehatan.com – Dear Sejawat…..Kali ini kami akan berbagi tentang pemeriksaan tes kesehatan (Medical check up) secara umum yang biasa dilakukan oleh Tenaga Kesehatan. Misalnya tes kesehatan bagi calon TNI, POLRI, dokter, perawat, bidan, karyawan swasta, maupun calon mahasiswa baru (perguruan tinggi) atau sekolah menengah kejuruan (SMK), termasuk di IPDN, dan lain sebagainya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu.

Tujuan dilakukan tes kesehatan adalah agar dapat mengetahui derajat kesehatan seseorang.

Tes kesehatan

 

Berikut Tes kesehatan (Medical Check Up)  yang umum dilakukan adalah:

1. pemeriksaan Fisik oleh Dokter Umum.

2. Pemeriksaan visus mata dan buta warna.

3. Pemeriksaan laboratorium, terdiri dari:

  • Darah lengkap: Hb, leukosit, hitung jenis leukosit (basofil, eosinofil, batang, segmen, limfosit, & monofosit), eritrosit, trombosit, laju endap darah (LED), dan hematrokit.
  • Urin lengkap: warna, kejernihan, pH, berat jenis, protein, glukosa, keton, urobilinogen, bilirubin, darah samar, leukosit, nitrit, sedimen urin (eritrosit, leukosit, silinder, epitel, kristal, & bakteri).
  • Fungsi hati: Kadar enzim SGOT dan SGPT dalam serum.
  • HbsAg: mendeteksi adanya infeksi virus hepatitis B.
  • Rongten.
  • Spirometri.
  • Audiometri.

 

1. Pemeriksaan Fisik Oleh Dokter Umum.

Hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan fisik, yaitu:

  • Tanda-tanda vital (TTV) yaitu: keadaan umum, BMI, tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan suhu tubuh. Bila calon ditemukan tekanan darah diatas 140/90 mmHg, maka harus dilakukan pemeriksaan ulang.
  • Kepala meliputi:
    • Mata: termasuk dalam pemeriksaan visus (point nomer 2).
    • Hidung: Apakah terdapat adanya kelainan struktur atau tidak.
    • Mulut: Kondisi gigi apakah terdapat karang gigi, lubang gigi (caries), kelenjar tonsil yang membesar ataukah tidak. Bila ditemukan gangguan, maka calon diwajibkan untuk mengobati gangguan tersebut.
    • Telinga: Ada tidaknya infeksi telinga atau serumen plug (kotoran yang menyumbat), gendang telinga utuh atau tidak. Bila ditemukan gangguan, maka calon diwajibkan untuk mengobati gagguan tersebut.
    • Leher: Apakah terdapat kelainan struktur atau adanya kelenjar getah bening yang bengkak.
    • Dada: Apakah terdapat kelainan struktur, gangguan pada kulit, kelainan suara paru-paru dan jantung. Bila ditemukan terdapat gangguan pada paru-paru, maka perlu dipastikan melalui foto rontgen. Sedangkan bila ditemukan terdapat gangguan pada jantung, maka perlu dipastikan melalui rekam jantung (Elekrokardiogram/EKG).
    • Perut: apakah terdapat kelainan struktur, gangguan pada kulit, gerakan peristaltik usus, serta apakah ada hernia atau tidak.
    • Ektremitas (tangan & kaki): Apakah terdapat kelainan struktur, gangguan pada kulit, dan keterbatasan gerak.

 

2. Pemeriksaan Visus Mata dan Buta Warna.

  • Bila ditemukan adanya gangguan visus (miopia/hypermetropia/astigmatisma), maka calon diwajibkan untuk mengoreksi gangguan tersebut.
  • Bila terdapat buta warna partial atau total, maka calon dinyatakan unfit (gagal).

Lihat dan perhatikan angka yang ada dalam video beriut ini:

3. Pemeriksaan Laboratorium.

Darah.

  • Hemoglobin (Hb).
    • Nilai normal: Laki-laki: 13-18 g/dl SI unit : 8,1-11,2 mmol/L, sedangkan pada Wanita: 12-16 g/dl SI unit: 7,4-9,9 mmol/L.
    • Hemoglobin adalah komponen yang berfungsi sebagai alat transportasi oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2).
      • Penurunan kadar Hb dalam darah dapat menyebabkan anemia (terutama anemia karena kekurangan zat besi), sirosis, hipertiroidisme, perdarahan, peningkatan asupan cairan dan kehamilan).
      • Peningkatan nilai Hb dapat terjadi karena pada hemokonsentrasi (luka bakar, polisitemia), gagal jantung kongestif, penyakit paru kronis, dan pada seseorang yang hidup di daerah dataran tinggi.

Bila ditemukan adanya nilai yang tidak sesuai dengan acuan nilai normal hemoglobin, maka harus dikonfirmasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik lebih lanjut.

  • Leukosit (sel darah putih).
    • Nilai normal: 3200-10.000/mm3 SI: 3,2-10,0 x 109/L.
    • Fungsi utama dari leukosit adalah untuk melawan infeksi, melindungi tubuh dengan memakan organisme asing dan memproduksi maupun mengangkut antibodi.
      • Peningkatan leukosit dapat terjadi pada infeksi bakteri, trauma, perdarahan, obat (misalnya merkuri, kortikostiroid, & epineprin), racun, nekrosis, leukemia (kanker sel darah putih) dan keganasan.
      • Nilai krisis leukosit adalah 30.000/mm3. lekositosis hingga 50.000/mm3 mengidentifikasikan adanya gangguan di luar sumsum tulang (bone marrow). Nilai leukosit yang sangat tinggi (diatas 20.000/mm3) dapat disebabkan oleh kanker sel darah putih (leukemia).
      • Penurunan nilai leukosit <4000/mm3 dapat disebabkan karena adanya infeksi oleh virus, anemia aplastik/pernisiosa, multiple mieloma, dan obat (misalnya antimetabolit, antibiotik, antikonvulsan, & kemoterapi).

Bila ditemukan adanya nilai leukosit yang tidak sesuai dengan acuan normal, maka harus dikonfirmasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik lebih lanjut.

  • Hitung jenis leukosit (basofil, eosinofil, batang, segmen, limfosit, & monosit).
  • Nilai normal:
Basofil. Eosinofil. Limfosit. Monosit. Neutrofil-segment. Neutrofil-bands.
Persentase % 0-2 0-6 15-45 0-10 36-73 36-73
Jumlah absolute (/mm3) 0-150 0-500 800-4000 100-800 1.260-7.300 0-1440

Penjelasan:

  • Basofil berfungsi untuk melawan diskrasia darah dan penyakit myeloproliferatif.
  • Eosinofil berfungsi untuk melawan gangguan alergi dan infeksi parasit.
  • Limfosit berfungsi untuk melawan infeksi virus dan infeksi bakteri.
  • Monosit berfungsi untuk melawan infeksi yang hebat.

Bila ditemukan adanya nilai yang tidak sesuai dengan acuan nilai normal, maka harus dikonfirmasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik lebih lanjut.

  • Eritrosit (sel darah merah).
    • Nilai normal; Laki-laki: 4,4-5,6 x 10sel/mm3 SI unit: 4,4-5,6 x 1012sel/L. Sedangkan Wanita: 3,8-5,0 x 10sel/mm3 SI unit: 3,5-5,0 x 1012sel/L.
    • Fungsi utama dari eritrosit adalah untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dan mengangkut CO2 dari jaringan tubuh ke paru-paru oleh Hb.
      • Jumlah sel darah merah menurun pada pasien anemia, leukemia, penurunan fungsi ginjal, talasemin, hemolisis, dan lupus eritematosus sistemik. Selain itu dapat juga terjadi karena obat-obatan (misalnya obat kanker dan obat anti HIV).
      • Jumlah sel darah merah meningkat pada pasien polisitemia vera, polisitemia sekunder, diare, dehidarasi, luka bakar, olahraga yang berat, dan orang yang tinggal di dataran tinggi.

Bila ditemukan nilai tidak sesuai dengan acuan nilai normal eritrosit, maka harus dikonfirmasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik lebih lanjut.

  • Trombosit.
    • Trombosit adalah elemen terkecil darah yang berfungsi untuk membantu pembekuan darah.
    • Nilai normal: 170-380. 103/mm3 SI: 170-380. 109/L.
      • Peningkatan trombosit berhubungan dengan adanya kanker, trauma, splenektomi, stres, pengerasan hati, dan arthritis reumatoid.
      • Penurunan trombosit berhubungan dengan adanya anemia hemolitik, aplastik, ITP (Idiopatik trombositopenia purpura), dan obat-obatan seperti heparin, penisilin, antineoplastik, kinin, & asam valproat.
      • Adanya penurunan trombosit di bawah 20.000 berkaitan dengan perdarahan spontan dalam jangka waktu yang lama, pembekuan yang lama, dan bercak merah pada kulit.

Bila ditemukan adanya nilai trombosit tidak sesuai dengan acuan normal, maka harus dikonfirmasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik lebih lanjut.

  • Laju Endap Darah (LED).
    • LED disebut juga dengan Erithrocyte sedimentation rate (ESR) adalah ukuran kecepatan endap sel darah merah, menggambarkan komposisi plasma serta perbandingan antara sel darah merah (eritrosit) dan plasma.
    • Nilai normal: Pria <15 mm/1 jam, sedangkan Wanita <20 mm/1 jam.
    • Fungsi LED adalah menunjukkan adanya peradangan atau kondisi adanya infeksi pada tubuh.
      • Peningkatan LED terjadi pada kondisi infeksi baik akut maupun kronis, seperti tuberkulosis, arthritis reumatoid, kanker, asam urat, penyakit tiroid, luka bakar, penyakit hodkin’s, infark miokard akut (IMA), dan kehamilan trimester II & III.
      • Peningkatan LED >50 mm/1 jam harus diidentifikasi lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan terkait dengan infeksi akut ataupun kronis, misalnya kadar protein dalam darah, immunoglobulin, reumatoid factor, dan ANA (Anti Nuclear Antibody) tes.
      • Penurunan LED biasanya terjadi pada gagal jantung kongesti, serum protein rendah, hipofibrinogenemia, dan polisitemia.

Bila ditemukan nilai LED meningkat 2 kali lipat atau lebih dari nilai normal, maka harus dilakukan pemeriksaan LED ulang.

  • Hematrokit (Hct).
    • Hematrokit menunjukkan persentase sel darah terhadap volume darah total.
    • Nilai normal= Pria: 40% – 50% SI unit 0,4 – 0,5. Sedangkan Wanita= 35% – 45% SI unit 0,35 – 0,45.
    • Peningkatan hematrokit dapat disebabkan karena terjadinya eritrositosis, dehidrasi, polisitemia, syok, dan kerusakan pada paru-paru kronik.

Bila ditemukan nilai tidak sesuai dengan acuan nilai normal, maka harus dikonfirmasi dengan anamnesis dan pemeriksaan lebih lanjut.

 

4. Pemeriksaan Urine Lengkap.

Parameter. Nilai Normal.
Berat jenis spesifik. 1,001 – 1,035.
Warna. Kekuning-kuningan, kuning.
pH. 4,5 – 8,5.
Protein. 0 – terlacak : <50 mg/dl atau 0,5 mg/L.
Glukosa. Negatif.
Keton. Negatif.
Sedimen urin. * Eritrosit, leukosit, bakteri, dan kristal.

Keterangan:

  • Cell cast = Menunjukkan adanya kematian jaringan tubular ginjal akut.
  • White cell cast = Biasanya menunjukkan adanya peradangan saluran kemih atas akut (pyelonefritis akut).
  • Red cell cast = biasanya muncul pada peradangan jaringan ginjal akut (glumerulonefritis).
  • Eritrosit = Peningkatan nilai menunjukkan adanya glomerulonefritis, vaskulitis, proteinuria, dan sumbatan ginjal atau penyakit mikroemboli.
  • Leukosit = Peningkatan nilai menunjukkan penyakit ginjal dengan peradangan.
  • Bakteri = Jumlah bakteri > 105/mL menunjukkan adanya infeksi pada saluran kemih.
  • Kristal (kristal kalsium oksalat, amorf, asam urat, dan triple fosfat) = menunjukkan adanya peningkatan asam urat dan asam amino.

Bila ditemukan adanya tanda infeksi pada saluran kemih, calon karyawan harus mengobati infeksinya terlebih dahulu. Bila terdapat tanda peradangan ginjal atau tanda batu ginjal  harus memeriksakan diri ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

 

5. Fungsi Hati.

  • SGPT.
    • SGOT berfungsi untuk diagnosa penyakit hati dan memantau lamanya pengobatan penyakit hati, pengerasan hati, dan efek kerusakan hati karena obat.
    • Nilai normal = 5 35 U/L.
    • Peningkatan kadar SGOT dapat terjadi pada penyakit sel hati, hepatitis, sirosis aktif, dan sumbatan bilier.
    • Banyak juga obat yang dapat meningkatkan kadar SGOT.
    • Nilai juga meningkat pada keadaan obesitas, ALL (acute lymphoblastic leukemia).
  • SGPT.
    • Nilai normal = 5 – 35 U/L.
    • SGPT ditemukan di jantung, ginjal, otot rangka, limfa, paru-paru dan prankeas. Penyakit yang menyebabkan perubahan, kerusakan atau kematian sel pada jaringan tersebut akan meningkatkan enzim ini.
    • Peningkatan kadar SGPT dapat terjadi pada penyakit hati, penyakit jantung, trauma, pankreatitis akut, anemia hemolitik akut, penyakit ginjal akut, luka bakar yang parah, dan pemakaian obat-obatan (misalnya isoniazid, eritromisin, dan kontrasepsi oral/KB pil).
    • Penurunan kadar AST dapat terjadi pada pasien asidosis dengan diabetes mellitus.
    • Obat-obat yang meningkatkan serum transaminase = paracetamol, obat TBC, obat kejang, Co-amoksiklav, dan anti radang (non steroid).

Bila ditemukan SGOT dan SGPT yang meningkatkan 2 kali lipat nilai normal, maka diharapkan mengecek ulang, bila didapatkan hasil yang masih tinggi maka dinyatakan unfit (gagal).

  • HbsAg.
    • HbsAg adalah antigen permukaan hepatitis B yang ditemukan pada 4-12 minggu setelah infeksi. Hasil positif menunjukkan hepatitis B baik akut maupun kronis.

Bila ditemukan hasil HbsAg positif, maka dinyatakan unfit (gagal).

 

6. Rongten.

Diinterprestasikan langsung oleh Dokter Spesialis Radiologi.

Bila terdapat tanda infeksi aktif, maka dinyatakan unfit. Tetapi bila terdapat tanda infeksi yang tidak aktif (infeksi masa lalu seperti TBC inaktif), maka diharapkan memeriksa diri terlebih dahulu pada Dokter Spesialis Paru.

 

7. Spirometri.

Diinterprestasikan langsung oleh Dokter Spesialis Paru.

Bila terdapat hambatan/restriksi sedang-berat, maka dinyatakan unfit (gagal).

 

8. Spirometri.

Diinterprestasikan langsung oleh Dokter Spesialis THT.

Bila terdapat hasil tuli konduktif atau tuli sensoris pada salah satu atau kedua telinga, maka dinyatakan unfit (gagal).

Hasil tes kesehatan

Hasil tes kesehatan biasanya diumumkan seminggu setelah tes kesehatan.

Demikian tentang tes kesehatan yang biasa dilakukan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan tes kesehatan akan lebih banyak atau sedikit dibandingkan diatas. Terima kasih.

2 Comments

Reply