Atonia Uteri

PerawatanKesehatan.com – Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implementasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.

Atonia uteri

©Wikipedia.org.

 

Perdarahan karena atonia uteri dapat dicegah dengan :

  • Melakukan manajemen aktif kala III karena hal ini dapat menurunkan insidens perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri.
  • Pemberian misoprostol peroral 2-3 tablet (400 – 600 mg) segera setelah bayi lahir.

Faktor predisposisinya adalah sebagai berikut :

  • Regangan rahim berlebihan karena kehamilan gameli, polihidramnion, atau anak terlalu besar.
  • Kelelahan karena persalianan lama.
  • Kehamilan grande multipara.
  • Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis, atau menderita penyakit menahun.
  • Adanya mioma uteri sehingga mengganggu kontraksi uterus.
  • Infeksi intrauterin ( korioamnionitis).
  • Adanya riwayat pernah atonia uteri sebelumnya.

Diagnosis Atonia Uteri.

Diagnosis dapat ditegakkan apabila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak, bergumpal dan pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau kontraksi yang tidak adekuat.

Penanganan Atonia Uteri.

Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien bisa masih dalam keadaan sadar, anemis atau bahkan sampe syok hipovolemik. tindakan pertama yang harus dilakukan apabila kita menemui kasus atonia uteri bergantung pada keadaan kliniknya.

Umumnya dilakukan secara simultan (bila pasien sampai syok). Berikut hal-hal yang dapat kita lakukan:

  • Sikap trendelenburg.
  • Memasang venous line.
  • Memberikan oksigen.
  • Merangsang kontraksi uterus dengan cara:
  • Masase fundus uteri dan merangsang puting susu.
  • Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui suntikan secara i.m, i.v atau s.c.
  • Memberikan derivat prostaglandin F2a  (carboprost thrometamine).
  • Pemberian misoprostol 800-1000 mg per- rektal.
  • Kompresi bimanual eksternal dan internal
  • Kompresi aorta abdominalis.
  • Pemasangan “tampon kondom” kondom dalam kavum uteri
  • disambung dengan kateter, di difiksasi dengan karet gelang dan diisi dengan cairan infus 200ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari tindakan operatif.

Catatan: tindakan pemasangan tampon kassa utero-vaginal tidak dianjurkan dan hanya bersifat temporer sebelum tindakan bedah ke rumah sakit rujukan.

 

Referensi.

  1. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo (editor ketua), Abdul Bari Saifuddin, editor, Trijatmo Rachimhadhi Gulardi H. Wiknjosastro, edisi ke-4, cetakan ke-1, Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.