Cidera akibat Cuaca Dingin (Hipotermi system dan Efeknya pada Jaringan Lokal)

PerawatanKesehatan.com – Berikut adalah cidera akibat cuaca dingin.

Hipotermi System.

Hipotermi adalah kondisi dimana suhu tubuh inti (core body temperature) dibawah suhu 35 derajat Celcius. Tanpa adanya trauma lain, hipotermi dibagi menjadi ringin, sedang, dan berat.

  • Ringan (berkisar antara 35 – 32 derajat C).
  • Sedang (berkisar antara 32 – 30 derajat C).
  • Berat (dibawah 30 derajat C).

Manula lebih rentan terhadap trauma akibat cuaca dingin (hipotermi) ini disebabkan Karena terbatasnya kemampuan untuk menghasilkan panas dan mengurangi panas melalui vasokontriksi. Demikian juga pada anak-anak yang luas permukaan tubuhnya relative lebih besar dan terbatasnya sumber energi.

 

Tanda – Tanda Hipotermia.

Berikut tanda-tanda terjadinya hipotermi selain penurunan suhu ini adalah:

  • Penurunan kesadaran.
  • Penderita teraba dingin.
  • Tampak kelabu.
  • Sianotik.

 

Cara mengatasi Hipotermi

  • Lakukan pemeriksaan A-B-C-D-E (airway-breathing-circulation-desability-exposure).
  • Cegah hilangnya panas dengan memindahkan penderita dari lingkunagan dingin.
  • Lepaskan baju yang basah.
  • Dingin serta tutup selimut hangat.

Selalu berikan oksigen sesuai dengan kebutuhan penderita.

 

Efek pada Jaringan Lokal Akibat Cidera Cuaca Dingin.

Berat ringannya akibat trauma cuaca dingin tergantung pada suhu, lamanya kontak, kondisi lingkungan, jumlah baju hangat/pelindung, dan kondisi kesehatan penderita..

Makin dingin suhu, imobilisasi, lembab, kontak yang lama, sudah adanya kelainan pembuluh darah perifer, dan luka terbuka semuanya akan memperberat trauma.

Terdapat 3 jenis trauma dingin, yaitu frostbite, frostnip, dan non feezing injury.

Frostbite.

Cidera akibat cuaca

Frostbite merupakan salah satu cidera akibat cuaca dingin.

Frostbite adalah pembekuan jaringan yang disebabkan Karena pembentukan kristal es intraseluler dan bendungan mikrovaskuler sehingga terjadi anoksia jaringan.

Frostbite dibagi menjadi 4 derajat, yaitu:

  • Derajat I: Hyperemia dan edema tanpa nekrosis di kulit.
  • Derajat II: Pembentukan bulla/vesikel disertai dengan hiperemi dan edema dengan nekrosis sebagian lapisan kulit.
  • Derajat III: Nekrosis seluruh lapisan kulit & jaringan subkutan, dan biasanya disertai juga dengan pembentukan vesikel hemorragik.
  • Derajat IV: Nekrosis seluruh lapisan kulit dan ganggren otot & tulang.

 

Frostnip.

Frostnip adalah bentuk paling ringan trauma dingin, ditandai dengan nyeri, pucat, dan kesemutan pada daerah yang terkena. Dengan melakukan penghangatan pada daerah ini maka dapat pulih sempurna tanpa kerusakan jaringan, kecuali bila trauma ini terjadi berulang-ulang kali dan dalam jangka waktu lama hingga bertahun-tahun maka dapat menyebabkan jaringan lemak hilang atau atrofi.

 

Non Freezing Injury.

Non Freezing Injury adalah cidera yang disebabkan oleh kerusakan endotel mikrovaskuler. Trench foot merupakan contoh dari non freezing injury tangan & kaki yang disebabkan Karena terkena udara basah terus menerus yang suhunya masih diatas titik beku, yaitu antara 1.6 – 10 derajat Celcius.

 

Cara Mengatasi Cidera Akibat Cuaca Dingin.

  1. Proteksi diri dan lingkungan.
  2. Selalu mendahulukan hal yang mengancam A-B-C (airway-breathing-circulation) terlebih dahulu.
  3. Penanganan harus segera dilakukan untuk memperpendek berlangsungnya pembekuan jaringan. Dan jangan menggosok bagian yang terkena frostbite Karena akan lebih mencederai penderita.

Re-warming:

  • Jangan lakukan pada frostbite dalam atau lanjut.
  • Selalu menggunakan penghangatan lembab jangan kering misalkan memakai hair dryer.
  • Bila terdapat luka, maka lakukan perawatan luka seperti halnya pada penderita luka bakar.
  • Jangan menggerak-gerakkan daerah yang terkena frostbite.
  • Segera rujuk ke rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan terdekat.

Bila penderita di rumah sakit remdam bagian tubuh yang terkena dalam ait hangat 40 derajat Celcius yang berputar hingga warna kulit menjadi merah dan perfusinya kembali normal. Dan biasanya dicapai dalam waktu 20 sampai 30 menit.

 

Referensi:
  1. BT&CLS. Cet. III. Ed III. Yayasan AGD 118 : Jakarta. 2010. p89-90.

Reply