Gagal Jantung (GJ)

PerawatanKesehatan.com – Gagal jantung adalah sekumpulan tanda dan gejala, ditandai oleh sesak nafas dan fatik (saat istirahat atau aktifitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung [1].

Gagal jantung (GJ) dulu dianggap sebagai akibat dari berkurangnya kontraktilitas dan daya pompa sehingga dibutuhkan inotropik untuk meningkatnya dan diuretik serta vasodilator untuk dapat mengurangi beban. Sekarang gagal jantung dianggap merupakan remodelling progresivitas dengan penghambat neurohumoral seperti ACE-Inhibitor, penyekat beta atau Angiotensin Reseptor-Blocker diutamakan di samping obat konvensional (diuretik dan digitalis) ditambah dengan terapi yang muncul belakangan ini misalnya biventricular pacing, miosplasti, RCT, ICD, dan bedah rekontruksi ventrikel kiri.

Istilah Dalam Gagal Jantung.

Gagal jantung sistolik dan diastolik.

Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung memompa sehingga curah jantung menurun, sehingga menyebabkan kelemahan, fatik, kemampuan aktifitas fisik menurun, dan gejala hipoperfusi lainnya. Sedangkan gagal jantung diastolik adalah gangguan relaksasi dan gangguan pengisian ventrikel. Gagal jantung diastolik diartikan juga sebagai gagal jantung dengan fraksi ejeksi lebih dari 50%.

Penatalaksanaan ditujukan untuk mengurangi dan menghilangkan  penyebab gangguan diastolik misalnya fibrosis, hipertrofi, atau iskemia.

Low output dan high output heart failure.

Low output heart failure disebabkan oleh hipertensi (tekanan darah tinggi), kardiomiopati dilatasi, kelainan katup dan perikard. Sedangkan high output heart failure ditemukan pada penurunan resistensi vaskular sistemik misalnya anemia, hipertiroidisme, beri-beri, kehamilan, fistula A-V, dan penyakit paget.

Gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri.
  • Gagal jantung kanan terjadi bila kelainannya melemahkan ventrikel kanan misalnya pada hipertensi pulmonal primer/sekunder atau pada tromboemboli paru kronik sehingga terjadilah kongesti vena sistemik yang menyebabkan hepatomegali, edema perifer, dan distensi vena jugularis.
  • Gagal jantung kiri akibat dari kelemahan ventrikel, meningkatkan tekanan vena pulmonalis dan paru sehingga menyebabkan pasien sesak nafas dan ortopnea.

Gagal jantung akut dan kronik.

  • Contoh gagal jantung akut (GJA) adalah robekan daun katup secara tiba-tiba yang diakibatkan oleh endokarditis, trauma, atau infark miokard luas.
  • Contoh gagal jantung kronik (GJK) adalah kardiomiopati dilatasi atau kelainan multivalvular yang terjadi secara perlahan.

Patogenesis Gagal Jantung

Gagal jantung

 

Diagnosa Gagal Jantung.

Dalam menentukan diagnosa gagal jantung harus berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, foto toraks/elektrokardiografi, ekokardiografi-doppler, dan kateterisasi seperti terlihat pada tabel dibawah ini.

Kriteria Framingham dapat dipakai dalam menentukan diagnosis gagal jantung kongestif.

Kriteria Major. Kriteria Minor.
  • Distensi vena leher.
  • Edema paru akut.
  • Gallop S3.
  • Kardiomegali.
  • Paroksismal nokturnal dispnea.
  • Peninggian tekanan vena jugularis.
  • Refluks hepatojugular.
  • Ronki paru.
  • Batuk malam hari.
  • Dispnea d’effort.
  • Edema ekstremitas.
  • Efusi pleura.
  • Hepatomegali.
  • Takikardia (>120 permenit).
  • Penurunan kapasitas vital 1/3 dari ormal.

Major atau minor.
Penurunan berat badan lebih dari 4,4 kg dalam 5 hari pengobatan.
Diagnosa gagal jantung dapat ditegakkan minimal terdapat 1 kriteria major dan 2 kriteria minor.

Penanganan Gagal Jantung.

Pada tahap simtomatik dimana sekumpulan tanda gagal jantung telah terlihat jelas misalnya fatik (cepat lelah), kardiomegali, sesak nafas, asites, peningkatan tekanan vena jugularis, edema, dan hepatomegali sudah jelas, maka diagnosa gagal jantung mudah dibuat. Tetapi bila sekumpulan tanda tersebut belum terlihat jelas misalnya pada tahap disfungsi ventrikel kiri (tahap asimtomatik), maka keluhan fatik dan keluhan diatas yang hilang timbul tidak khas, sehingga harus ditopang dengan pemeriksaan rontgen, ekokardiografi, dan pemeriksaan brain natriuretic peptide.

  • Obat deuretik per oral dan parenteral merupakan ujung tombak dari pengobatan gagal jantung hingga edema atau asites hilang (tercapai euvolemik).
  • Obat ACE-inhibitor atau ARB (Angiotensin Reseptor Blocker) dosis rendah dapat di mulai setelah euvolemik hingga dosis optimal.
  • Obat penyekat beta dosis rendah sampai optimal dapat dimulai setelah obat deuretik dan ACE-inhibitor diberikan.
  • Obat digitalis diberikan bila terdapat aritmia supra-ventrikular (fibrilasi atrium atau SVT lainnya) atau ketiga obat diatas (obat diuretik, ACE-inhibitor, dan penyekat beta) belum memberikan hasil yang memuaskan. Tetapi perlu di catat! Bahwa intoksikasi obat digitalis sangatlah mudah terjadi bila fungsi ginjal menurun (ditandai dengan ureum/kreatinin meningkat) atau kadar kalium rendah (kurang dari 3,5 meq/L).
  • Obat aldosteron antagonis digunakan untuk memperkuat efek diuretik atau pada pasien dengan hipokalemia, dan terdapat beberapa kasus yang menunjukkan penurunan mortalitas dengan pemberian obat ini.

Hingga saat ini pemakaian obat dengan efek diuretik-vasodilatasi (misalnya Brain N atriuretic Peptide) masih dalam penelitian.

Penggunaan alat bantu misalnya CRT (Cardiac Resychronization Defibrillator) sebagai alat untuk mencegah kematian mendadak pada penderita penyakit gagal jantung akibat dari iskemia atau non iskemia dapat memperbaiki status fungsional dan kualitas hidup, akan tetapi biayanya mahal.

Referensi.

  1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid ketiga. Edisi keempat. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007

2 Comments

Reply