Gagal Jantung – Gejala, Klasifikasi, dan Penatalaksanaan

Gagal jantung

Ilustrasi gagal jantung © sbtlneet/CC0/Pixabay

Dear Sejawat se-tanah air, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, FKUI. 2007 definisi gagal jantung adalah sekumpulan tanda dan gejala, ditandai oleh sesak nafas dan cepat capek (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung.

 

Beberapa Istilah dalam Gagal Jantung.

Gagal Jantung Akut dan Gagal Jantung Kronis.

Contoh gagal jantung akut (GJA) adalah robekan daun katup secara tiba-tiba akibat endokarditis, trauma atau infark miokard luas, curah jantung yang menurun secara tiba-tiba menyebabkan penurunan tekanan darah tanpa disertai pembengkakan akibat penimbunan cairan dalam ruangan interstisial. Contoh gagal jantung kronis (GJK) adalah kardiomiopati dilatasi atau kelainan multivalvular yang terjadi secara perlahan-lahan.

Gagal Jantung Kiri dan Gagal Jantung Kanan.

Gagal jantung kiri terjadi akibat kelemahan ventrikel, meningkatkan tekanan darah vena pulmonalis dan paru menyebabkan penderita sesak nafas dan ortopnea. Gagal jantung kanan terjadi apabila kelainannya melemahkan ventrikel kanan misalnya pada hipertensi pulmonal baik primer maupun sekunder, tromboemboli paru kronik sehingga terjadi kongesti vena sistemik yang menyebabkan edema perifer, hepatomegali, dan distensi vena jugularis.

Gagal Jantung (Low Output dan High Output).

Gagal jantung low output disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi, kardiomiopati dilatasi, kelainan katup dan perikard. Gagal jantung high output ditemukan pada penurunan resistensi vascular iskemik misalnya anemia, kehamilan, hipertiroidisme, beri-beri, fistula A-V, dan penyakit paget.

Gagal Jantung Sistolik dan Diastolik.

Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung untuk memompa sehingga curah jantung menurun dan menyebabkan kelemahan, cepat capek, kemampuan aktivitas fisik menurun, dan gejala kurangnya hipoperfusi lainnya. Gagal jantung diastolik adalah ganguan relaksasi dan gangguan pengisian ventrikel.

 

Gejala Gagal Jantung.

Menurut dr. Alvin Nursalim dikutip klikdokter.com , menjelaskan tanda dan gejala gagal jantung yang sering muncul diantaranya yaitu mudah lelah, sesak nafas, lebih suka tidur dalam posisi tinggi atau dengan 2 – 3 bantal, bengkak di beberapa bagian tubuh, dan lemas.

 

Diagnosis Gagal Jantung.

Dalam menegakkan diagnosis gagal jantung dibuat berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG), foto toraks, ekokardiografi-doppler.

Selain itu, menurut Framingham diagnosis gagal jantung dapat ditegakkan bila terdapat minimal 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor, yaitu sebagai berikut:

Kriteria Mayor.

· Distensi vena leher.

· Gallop S3.

· Kardiomegali.

· Edema paru akut.

· Peningian tekanan vena jugularis.

· Paroksimal nocturnal dyspnea.

· Ronki paru.

· Refluks hepatojugular.

Kriteria Minor.

· Batuk malam hari.

· Edema ekstremitas.

· Dyspnea d’effort (sesak nafas).

· Efusi pleura.

· Hepatomegali.

· Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal.

· Takikardia (>120 permenit).

 

Klasifikasi Gagal Jantung.

Menurut Asosiasi Jantung New York (NYHA), dikutip dari kolomkesehatan.net , tingkat keparahan gagal jantung diklasifikasikan menurut derajatnya, yaitu:

· Derajat I : aktivitas fisik tidak menimbulkan gejala dan tidak ada keterbatasan aktivitas fisik.

· Derajat II : aktivitas fisik sehari-hari menyebabkan lelah, sesak nafas, dan debar-debar.

· Derajat III : aktivitas fisik ringan menyebabkan menyebabkan lelah, sesak nafas, dan debar-debar dan terdapat keterbatasan fisik secara segnifikan.

· Derajat IV : pada saat istirahat sudah terdapat gangguan jantung dan bila beraktivitas malah semakin berat gejalanya.

 

Penatalaksaan Gagal Jantung.

Pada tahap simtomatik dimana sekumpulan tanda & gejala gagal jantung telah tampak jelas contohnya cepat capek (fatik), sesak nafas, kardiomegali, peningkatan tekanan vena jugularis, asites, hepatomegalia dan edema tampak jelas, maka diagnosis gagal jantung mudah untuk ditegakkan, tetapi bila sekumpulan tanda & gejala tersebut belum tampak jelas seperti pada tahap disfungsi ventrikel kiri (tahap asimtomatik), maka keluhan cepat capek dan keluhan diatas yang hilang timbul tidak khas, sehingga harus ditopang dengan pemeriksaan foto rontgen, ekokardiografi, dan pemeriksaan BNP (Brain Natriuretic Peptide).

Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati gagal jantung yaitu:

· Diuretic baik oral maupun parenteral tetap merupakan ujung tombak dalam pengobatan gagal jantung hingga edema atau asites hilang (tercapai euvolemik).

· ACE-inhibitor atau angiotensin receptor blocker dosis kecil sudah dapat dimulai setelah tercapai euvolemik hingga dosis optimal.

· Penyekat beta dosis kecil hingga optimal dapat dimulai setelah pemberian diuretic & ACE-inhibitor tersebut diberikan.

· Digitalis diberikan jika terdapat aritmia supra ventrikular atau ketiga obat yang kami sebutkan diatas tidak atau belum memberikan hasil yang maksimal. Intoksikasi digitalis sangat mudah sekali apabila fungsi ginjal menurun (ureum/kreatinin meningkat) atau kadar kalium rendah (< 3,5 meq/L).

· Aldosterone antagonis digunakan untuk memperkuat efek diuretic atau pada penderita dengan kadar kalium rendah, dan terdapat beberapa studi yang menunjukkan penurunan angka kematian dengan pemberian jenis obat ini.

Penggunaan alat bantu seperti terapi resinkronisasi jantung (CRT) maupun pembedahan, pemasangan alat pacu jantung (ICD) sebagai alat bantu untuk mencegah kematian secara mendadak pada gagal jantung akibat iskemia maupun on-iskemia akan tetapi harganya sangat mahal.

Reply