Gangguan Mental Organik (GMO) pada Jemaah Haji

PerawatanKesehatan.com – Gangguan mental organik adalah suatu gangguan mental perilaku yang disebabkan oleh penyakit/gangguan fisik atau kondisi medis yang secara primer mempengaruhi otak dan secara sekunder akibat dari kondisi metabolic.

Gangguan Mental Organik (GMO) pada Jemaah Haji

Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 13 tahun 2008 tentang penyelenggaraan ibadah haji, kemenkes (kementrian kesehatan) diberi tanggung jawab sepenuhnya dalam bidang pelayanan kesehatan dalam proses penyelenggaraan ibadah haji. Macam-macam kategori haji adalah:

  1. Haji mandiri adalah status kesehatan Jemaah haji yang terkategori sehat, sehingga mampu melaksanakan aktifitas pribadi dan ibadah secara mandiri.
  2. Haji observasi adalah status kesehatan Jemaah haji yang terkategori membutuhkan pengamatan karena mengalami gangguan kesehatan ringan, akan tetapi mampu melaksanakan aktivitas pribadi dan ibadah secara mandiri.
  3. Haji pengawasan adalah status kesehatan Jemaah haji yang terkategori perlu pengawasan dari tenaga kesehatan dan pendampingnya karena mengalami gangguan kesehatan sedang hingga berat sehingga tidak mampu melaksanakan aktivitas pribadi dan ibadah secara mandiri.
  4. Haji tunda adalah status kesehatan haji yang terkategori perlu penundaan keberangkatan karena mengalami gangguan kesehatan yang tidak memenuhi syarat penerbangan dana tau penyakit infeksi yang dilarang oleh peraturan kesehatan dunia.

Setiap tahun tantangan pelayanan kesehatan haji terus bertambah karena disebabkan oleh jumlah calon haji yang besar, jumlah yang memiliki resiko tinggi dan lanjut usia cukup besar, selain itu beragamnya latar belakang psikologis, social budaya, dan pendidikannya.

 

Di Indonesia jumlah Jemaah haji yang berusia lanjut berjumlah sekitar lebih dari 50%. Sedangkan masalah yang sering ditemukan pada jamaah haji lanjut usia yaitu dirawat dengan diagnose demensia*), hal ini dipicu oleh kondisi fisik dan lingkungan, terutama cuaca yang panas dan dehidrasi. Dehidrasi adalah salah satu contoh gangguan mental organic (GMO) secara sekunder yang mampu mempengaruhi fungsi otak secara fisiologis sehingga terjadi disfungsi otak.

*) Demensia adalah suatu kondisi sakit yang disebabkan oleh kematian atau rusaknya sel-sel otak yang ditandai dengan gejala utama yaitu kemunduran fungsi intelektual.

 

Kriteria Diagnosis Gangguan Mental Organik (GMO).

Kriteria diagnosis delirium, Diasnostic & statistical manual of mental disorders (DSM-IV-TR) adalah sebagai berikut:

  • Gangguan kesadaran disertai penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian.
  • Terdapat bukti bahwa gangguan yang terjadi adalah dampak dari psikologis kondisi medis.
  • Perubahan fungsi kognitif/munculnya gangguan persepsi (halusinasi) bukan karena demensia.
  • Terdapat fluktasi gejala dan tanda berubah-ubah sepanjang hari.
  • Tanda dan gejala gangguan tersebut timbul secara mendadak.

Berdasarkan kriteria diagnosis diatas, maka dapat disimpulkan bahwa diagnosis delirium dapat ditegakkan berdasarkan kondisi klinis penderita, akan tetapi dibutuhkan pemeriksaan penunjang untuk dapat menelusuri penyebab delirium. Secara umum, algoritma penapisan delirium dilakukan dengan instrumen CAM (confusion assessment method). Seseorang dapat dikatakan mengalami delirium apabila memenuhi kriteria 1 & 2 ditambah dengan kriteria 3 atau 4 CAM, yaitu:

  1. Timbulnya secara mendadak (akut) dan berfluktuasi.
  2. Perubahan tingkat kesadaran.
  3. Cara berfikir atau berbicara tidak nyambung.
  4. Sulit untuk memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian, contohnya sulit menyebutkan nama-nama hari secara terbalik atau melakukan pengurangan angka, selain itu juga terdapat disorientasi waktu, ruang, atau orang.

Dari hasil riset yang dilakukan terhadap jamaah haji yang dirawat karena masalah kesehatan jiwa di BPHI Makkah dan Madinah pada tahun 2014 diperoleh data hampir mencapai 70% jamaah haji berusia lanjut yang dirawat dengan diagnosis demensia ataupun BPSD, yang dipicu karena kondisi fisik dan lingkungan, terutama cuaca yang panas dan dehidrasi.

 

Deteksi Dini.

Deteksi dini kesehatan jiwa pada calon jamaah haji adalah:

  • Resiko tinggi kesehatan jiwa adalah suatu resiko terhadap calon jamaah haji bila didapatkan gejala atau diagnosis demensia, episode depresi berat, episode manik, gejala psikotik, dan gangguan ansietas.
  • Modifikasi MMSE & HVLT adalah suatu instrument wawancara yang dipakai untuk memperoleh gejala demensia.
  • Maksudnya adalah mendeteksi adanya kondisi kesehatan jiwa bagi seluran calon jamaah haji dalam waktu yang singkat (berkisar 5-10 menit) terhadap resiko tinggi gangguan jiwa di pelayanan kesehatan primer.
  • Tujuannya adalah untuk memperoleh calon jamaah haji yang termasuk dalam kategori resiko tinggi kesehatan jiwa.

Deteksi dini ini dilakukan saat berada:

  • Di tanah air (Puskesmas/Rumah Sakit/Embarkasi) = MMSE + HVLT + MINI ICD X.
  • Di pesawat = gejala gangguan mental organik dan dehidrasi.
  • DI Saudi = gejala gangguan mental organik seperti delirium dan demensia.

 

Keadaan kesehatan jamaah haji:

  • Sakit yang didapatkan selama berada di Saudi = cemas maupun depresi.
  • Memiliki sakit bawaan dari tanah air = MCI, dimensia ringan.
  • Sakit bawaan diperberat karena keadaan di Saudi = MCI + Dehidrasi.

 

Faktor resiko delirium adalah:

  • Berusia lebih dari 65 tahun.
  • Menderita penyakit yang berat.
  • Mempunyai multipatologi (mengidap lebih dari satu penyakit pada satu saat).
  • Terdapat adanya demensia yang disebabkan oleh infeksi atau dehidrasi.
  • Sebelumnya sudah memiliki riwayat delirium.
  • Riwayat terjatuh.
  • Terdapat gangguan kognitif.
  • Terdapat gangguan penglihatan.
  • Terdapat gangguan pendengaran.
  • Konsumsi alk0hoI yang berlebihan.
  • Mempunyai gangguan fungsi ginjal.
  • Terdapat keadaan depresi.
  • Gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari.
  • Riwayat terkena stroke.
  • Riwayat struktur otak tidak normal.
  • JK Laki-laki.

 

Sedangkan faktor pencetus delirium pada usia lanjut adalah:

  • Kelainan neurologis (contohnya stroke akut).
  • Penggunaan obat-obatan terutama yang mempunyai efek antikolinergik atau psikoaktif (contohnya antihistamin, antispasmodic, antidepresi).
  • Putus obat atau alk0hoI.
  • Gangguan metabolik (contohnya gangguan glukosa, asam basa, dan hyponatremia).
  • Penurunan curah output.
  • Dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).
  • Susah BAB (konstipasi).
  • Retensi urin.
  • Kurang tidur.
  • Penggunaan kateter urin.
  • Faktor lingkungan.
  • Status nutrisi buruk.
  • Komplikasi iatrogenic.
  • Stimulus sensorik yang sangat kurang atau berlebihan.

 

Berdasarkan manifestasi psikomotor, delirium dapat dikelompokkan menjadi 3 subtipe, yaitu:

  1. Delirium tipe hiperaktif.
  2. Delirium tipe hipoaktif.

 

Penatalaksanaan Delirium pada Orang Usia Lanjut.

Langkah-langkah penatalaksaan delirium pada usia lanjut adalah:

  • Identifikasi dan tata laksana penyebab delirium (lihat uraian diatas tentang factor pencetus delirium).
  • Evaluasi data anamnesis dan pemeriksaan fisik.
  • Kaji semua obat-obatan yang digunakan oleh penderita termasuk juga obat-obatan yang dapat dibeli tanpa resep dokter dan obat herbal untuk identifikasi kemungkinan terjadinya efek samping dari penggunaan obat tersebut.
  • Indentifikasi adanya infeksi.
  • Lakukan pemeriksaan penunjang sesuai dengan indikasi.

 

Referensi:

  1. Cabin. Clinical Update on Travel Medicine The Current Policy & Health Problem in Pilgrimage & Other Traveler. Yogyakarta: CME 42 Fakultas Kedokteran & Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 2017. p23-33.