HIV & AIDS – Pengertian, Penyebab, Cara Penularan, sll

HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yaitu sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV akan masuk ke dalam sel darah putih dan merusaknya, sehingga sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi akan menurun jumlahnya. Akibatnya sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderita mudah terkena berbagai penyakit. Kondisi ini disebut AIDS. (Yulrina, 2015)

Acquired ImmunoDeficiency Syndrom (AIDS) adalah sindroma dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. (Sarwono, 2009)

 

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

 

Penyebab HIV.

Penyebab kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen viral yang disebut HIV dari keluarga retroviridae. Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui perantara darah, semen, dan sekret vagina. Sebagian besar (75%) penularan terjadi melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik, dan transfusi darah.

Masa inkubasi:

Dalam beberapa penelitian mengatakan umumnya masa inkubasi terjadi selama

3-10 tahun.

Limfosit CD4+  merupakan target utama infeksi HIV terkena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Limfosit CD4+ berfungsi mengoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respons imun yang progesif.

    Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari pada model infeksi akut Simian Immunodeficiency Virus (SIV). SIV dapat menginfeksi limfosit CD4+ dan monosit pada mukosa vagina. Virus dibawa oleh antigen presenting cells ke kelenjar getah bening reginonal. Pada model ini, virus dideteksi pada kelenjar getah bening maka dalam 5 hari setelah inokulasi. Sel individual di kelenjar getah bening yang mengekspresikan SIV dapat dideteksi dengan hibridisasi in situ dalam 7 sampai 14 hari setelah inokulasi. Viremia SIV dideteksi 7-21 hari setelah infeksi. Puncak jumlah sel yang mengekspresikan SIV di kelenjar getah bening berhubungan dengan puncak antigenemia p26 SIV. Jumlah sel yang mengekspresikan virus di jaringan limfoid kemudian menurun secara cepat dan dihubungkan sementara dengan pembentukan respons imun spesifik, koinsiden degnan menghilangkan viremia adalah peningkatan sel limfosit CD8. Walaupun demikian tidak dapat dikatakan bahwa respons sel limfosit CD8+ menyebabkan kontrol optimal terhadap replikasi HIV.

Replikasi HIV berada pada keadaan ‘steady-state’ beberapa bulan setelah infeksi. Kondisi ini bertahan relatif stabil selama beberapa tahun, namun lamanya sangat bervariasi. Faktor yang mempengaruhi tingkat replikasi HIV tersebut, dengan demikian juga perjalanan kekebalan tubuh pejamu, adalah heterogenesis kepasitas replikatif virus dan heterogeneitas intriksik pejamu.

    Antibodi muncul di sirkulasi dalam beberapa minggu setelah infeksi, akan tetapi secara umum dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi infeksi telah menurun ke level ‘steady-state’. Meskipun antibodi ini umumnya memiliki aktifitas netralisasi yang kuat melawan infeksi virus, namun ternyata tidak dapat mematikan virus. Virus dapat menghindar dari netralisasi oleh antibodi dengan melakukan adaptasi pada amplopnya, termasuk kemampuannya merubah situs glikosilasi-nya, akibatnya konfigurasi 3 dimensinya berubah sehingga netralisasi yang diperantarai antibodi tidak dapat terjadi.

 

Tanda dan Gejala Penyakit

  1. Panas lebih dari 1 bulan.
  2. Batuk-batuk
  3. Sariawan dan nyeri saat menelan.
  4. Badan menjadi sangat kurus.
  5. Diare.
  6. Sesak nafas.
  7. Pembesaran KGB.
  8. Kesadaran menurun.
  9. Penurunan ketajaman pandangan.
  10. Bercak ungu kehitaman di kulit.

Gejala Mayor

  1. Penurunan berat badan.
  2. Demam memanjang atau lebih dari 1 bulan.
  3. Diare kronis.
  4. Tuberkulosis.

Gejala Minor

  1. Kandidiasis orofaringeal.
  2. Batuk menetap.
  3. Kelamahan tubuh.
  4. Berkeringat malam.
  5. Hilang nafsu makan.
  6. Infeksi kulit.

 

Perjalanan Penyakit

Seseorang dinyatakan terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium tebukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan antibodi, atau pemeriksaan untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Dalam tubuh odha, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV maka seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian besar berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.

Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalam demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi terdapat sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya sangat cepat, dapat hanya sekitar 2 tahun, dan ada pula yang perjalanannya lambat.

Seiring dengan memburuknya kekebalan tubuh, odha mulai menampakkan gejala-gejala akibat oportunistik seperti berat badan menurun, demam lama, rasa lemah, pembesaran kelenjar getah bening, diare, tuberkulosis, infeksi jamur, herpes, dll.

Tanpa pengobatan ARV, walaupun selama beberapa tahun tidak menunjukkan gejala, secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan memburuk, dan akhirnya pasien menunjukkan gejala klinik yang semakin berat, pasien masuk ke tahap AIDS, jadi yang disebut laten secara klinik (tanpa gejala), sebetulnya bukan laten bila ditinjau dari sudut penyakit HIV. Manifestasi awal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh adalah kerusakan mikro arsitektur folikel kelenjar getah bening dan infeksi HIV yang luas di jaringan limfoid, yang dapat dilihat dengan pemeriksaan hibridisasi in situ. Sebagian besar replikasi HIV terjadi di kelenjar getah bening, bukan di peredaran darah tepi.

Pada waktu awal orang terkena penyakit masih terasa sehat, klinis tidak menunjukkan gejala, pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi, 10 partikel setiap hari. Replikasi yang cepat ini disertai dengan mutasi HIV dan seleksi, muncul HIV yang resisten. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi, untungnya tubuh masih bisa mengkompensasi dengan memproduksi CD4 sekitar 109 sel setiap hari.

Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika. Lebih dari 80% pengguna narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Infeksi pada katub jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha pengguna narkotika dan biasanya tidak ditemukan pada odha yang tertular dengan cara lain. Lamanya penggunaan jarum suntik berbanding lurus dengan infeksi pneumonia dan tuberkulosis. Makin lama seseorang menggunakan narkotika suntikan, maka makin mudah ia terkena pneumonia dan tuberkulosis. Infeksi secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk. Infeksi oleh kuman penyakit lain akan menyebabkan virus HIV membelah lebih cepat sehingga jumlahnya akan meningkat pesat. Selain itu juga dapat menyebabkan reaktivasi virus di dalam limfosit T. Akibatnya perjalanan penyakitnya biasanya lebih progresif.

Perjalanan penyakit HIV yang lebih progresif pada pengguna narkotika ini juga tercermin dari hasil penelitian di RS dr. Ciptomangunkusumo pada 57 pasien HIV asimptomatik yang berasal dari pengguna narkotika, dengan kadar CD4 lebih dari 200 sel/mm3. Ternyata 56,14% memiliki jumlah virus dalam darah yang melebihi 55.000 kopi/ml, artinya penyakit infeksi HIV nya progresif, walaupun kadar CD4 relatif masih cukup baik.

 

Cara Penularan

Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya. Oleh karena itu kelompok resiko tinggi terhadap HIV /AIDS misalnya pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya, serta narapidana.

    Fakta yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa peningkatan infeksi HIV yang semakin nyata pada pengguna narkotika. Padahal sebagian besar odha merupakan pengguna narkotika adalah remaja dan usia dewasa muda odha yang merupakan kelompok usia produktif.

 

Penatalaksaan

HIV/AIDS sampai saat ini memang belum dapat disembuhkan secara total. Akan tetapi, data selama 8 tahun terakhir menunjukkan bukti yang sangat meyakinkan bahwa pengobatan dengan kombinasi beberapa obat anti HIV (obat anti retroviral, disingkat obat ARV) bermanfaat menurunkan morbilitas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV. Orang dengan HIV/AIDS menjadi lebih sehat, dapat bekerja normal dan produktif. Manfaat ARV dicapai melalui pulihnya sistem kekebalan akibat HIV dan pulihnya kerentanan odha terhadap infeksi opurtunistik.

    Secara umum, penatalaksaan odha terdiri atas beberapa jenis, yaitu;

  1. Pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV). Pemberian ARV telah menyebabkan kondisi kesehatan odha menjadi jauh lebih baik. Infeksi kriptosporidiasis yang sebelumnya sukar diobati, menjadi lebih mudah ditangani. Obat ARV terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse transcriptase inhibitor, nucleotide reserve transcriptase inhibitor, non-nucleoside reserve transcriptase inhibitor, dan inhibitor protease. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua obat ARV tersedia di Indonesia.
  2. Pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS, seperti jamur, tuberkulosis, hepatitis, toksoplasma, sarkoma kaposi, limfoma, kanker serviks. Di Indonesia masalah yang sering dihadapi yaitu masalah koinfeksi tuberkulosis dengan HIV. Pada prinsipnya, pemberian OAT pada odha tidak berbeda dengan pasien HIV negatif. Interaksi antar OAT dan ARV, terutama efek hepatotoksisitasnya, harus sangat diperhatikan. Pada odha yang telah mendapat obat ARV sewaktu diagnosis TB ditegakkan, maka obat ARV tetap diteruskan dengan evaluasi yang lebih ketat. Pada odha yang belum mendapat terapi ARV, waktu pemberian obat disesuaikan dengan kondisinya.
  3. Pengobatan suportif, yaitu makanan yang mempunyai nilai gizi yang lebih baik dan pengobatan pendukung lain seperti dukungan psikososial dan dukungan agama serta juga tidur yang cukup dan perlu menjaga kebersihan.

 

Dengan pengobatan yang lengkap tersebut, angka kematian dapat ditekan, harapan hidup lebih baik dan kejadian infeksi oportunistik dapat berkurang.

 

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Terdapat beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa negara dan sangat dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), untuk dilaksanakan secara sekaligus, yaitu;

  1. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda.
  2. Program penyuluhan sebaya (peer group education).
  3. Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik.
  4. Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkoba, temasuk program pengadaan jarum suntik steril.
  5. Program pendidikan agama.
  6. Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS).
  7. Program promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat.
  8. Pelatihan ketrampilan hidup.
  9. Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling.
  10. Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak.
  11. Integrasi program-program pencegahan dan pengobatan, perawatan dan dukungan untuk odha.
  12. Program pencegahan ppenularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV.

 

Perlu diketahui bahwa sebagian besar program tersebut sudah dijalankan di Indonesia. Dengan kata lain, kita sebenarnya sudah mampu melakukannya. Hanya sayangnya program-program tersebut belum dilaksanakan secara berkesinambungan dan belum merata di seluruh Indonesia. Akan tetapi, perbaikan masih harus dilakukan di sana-sini. Bukan hanya yang menyangkut kualitas program, namun juga perluasan cakupan penerima program.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *