Indeks Massa Tubuh Menurut WHO dan Asia Pasifik

Indeks massa tubuh

Ilustrasi Alat ukur TB dan BB.

PerawatanKesehatan.com – Mengukur lemak tubuh secara langsung sangatlah sulit dan sebagai pengukur pengganti dipakai indeks massa tubuh (IMT) untuk mengukur berat badan lebih dan obesitas (kegemukan) pada orang dewasa. Indeks massa tubuh merupakan indikator yang paling sering dipakai untuk mengetahui status gizi seseorang, apakah berar berat badan berlebih atau obesitas. Pada seseorang yang lebih besar tinggi dan gemuk, akan lebih berat dari pada orang yang lebih kecil.

 

Rumus Indeks Massa Tubuh.

Cara mengukur indeks massa tubuh (IMT), yaitu berat badan dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (m2[1].

IMT = BB (kg) / TB (m 2).

 

Video cara menghitung IMT sebagai berikut:

Karena IMT menggunakan ukuran berat dan tinggi badan, maka dalam pengukurannya harus dilakukan dengan sangat teliti.
Status gizi berdasarkan indeks massa tubuh (IMT).

  • Status gizi kurang tingkat berat = < 17.
  • Status gizi kurang tingkat ringan = 17-18,5.
  • Status gizi kurang = 18,5 atau kurang.
  • Status gizi kurang = 18.5-24,9.
  • Status gizi lebih = 25,0-27,0. [2]

Kelompok berat badan lebih dan obesitas pada orang dewasa berdasarkan indeks massa tubuh menurut WHO (organisasi kesehatan dunia), nilai IMT 30 kg/m^2 dikatakan sebagai obesitas. Sedangkan nilai IMT 25-29,9 kg/m^2, dikatakan sebagai pra obese. Tetapi. Sebaiknya nilai IMT untuk bangsa Indonesia, Thailand, China, dan Ethiopia adalah 1,9, 4,6, 3,2 dan 2,9 kg/m^2 lebih rendah dibandingkan dengan ras berkulit putih.

 

 

Tabel 1. Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) Menurut WHO.

Kategori. IMT (kg/m2).
Berat badan kurang. < 18,5.
Kisaran normal. 18,5-24,9.
Berat badan lebih. > 25.
Pra-Obes. 25,0-29,9.
Obesitas tingkat 1. 30,0-34,9.
Obesitas tingkat 2. 35,0-39,0.
Obesitas tingkat 3. > 40.

© WHO technical series, 2000.

 

Tabel 2. Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut Asia Pasifik.

Kategori. IMT (kg/m2).
Berat badan kurang. < 18,5.
Kisaran normal. 18,5-22,9.
Berat badan lebih. > 23,0.
Beresiko. 23,0-24,9.
Obesitas tingkat I. 25,0-29,9.
Obesitas tingkat II. > 30,0.

© WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity & its Treatment (2000).

 

Referensi.

  1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.
  2. Materi Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Paramedis. Pusat Hiperkes dan KK Disnakertrans Provinsi DKI Jakarta. 2012.

Baca juga selanjutnya: Penyebab obesitas.

Reply