Infark Miokard Akut (IMA)

PerawatanKesehatan.com – Halo sejawat, Bila ingin mempelajari salah satu penyakit jantung ini. Sebaiknya ketahui terlebih dulu anatomi jantung beserta fisiologinya.

 

Pengertian Infark Miokard Akut (IMA).

Infark miokard akut adalah kematian organ miokard yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat dari sumbatan akut arteri koroner. Arteri koroner adalah cabang pertama dari sirkulasi sistemik. Sirkulasi koroner terdiri dari arteri koroner kiri dan kanan [1].

Arteri koroner kiri memiliki dua cabang besar yaitu ramus desenden anterior dan ramus sirkumpleks. Arteri ini melingkari jantung dalam dua lekuk anatomis eksternal yaitu sulkus atrioventrikular yang melingkari jantung diantara atrium dan ventrikel dan sulkus inter ventrikel yang memisahkan kedua ventrikel. Sedangkan arteri koroner kanan berjalan ke sisi kanan jantung pada sulkus atrioventrikuler kanan.

 

Sebagian besar sumbatan ini disebabkan oleh ruptur plak ateroma pada arteri koroner yang kemudian di ikuti dengan terjadinya sumbatan, penyempitan pada pembuluh darah, reaksi peradangan dan mikroembolisasi distal. Selain itu, spasme arteri koroner, emboli ataupun vaskulitis juga dapat menyebabkan sumbatan ini.

Infark miokard akut

Gambar 1. Plak di arteri koroner.

 

Dalam menentukan diagnosis IMA, terdapat 3 komponen yang perlu ditemukan, yaitu:

  1. Nyeri dada.
  2. Perubahan pada pemeriksaan EKG berupa ST elevasi miokardial infark (STEMI) atau non ST elevasi miokard infark (NSTEMI) dengan atau tanpa disertai gelombang Q patologik.
  3. Peningkatan enzim jantung (paling sedikit 1,5 kali nilai batas atas normal) dan nilai troponin > 0,2 ng/dl (nilai normal = 0,1 – 0,2 ng/dl.

 

Tanda Gejala Infark Miokard Akut (IMA).

Gejala IMA adalah nyeri dada yang biasanya berlangsung lebih dari 20 menit, retrosternal, berlokasi di tengah/dada kiri, menjalar ke rahang, pungggung dan lengan kiri.

Rasa nyeri ini dapat di gambarkannoleh pasien sebagai perasaan seperti tertekan benda berat, seperti terbakar, seperti tertusuk atau seperti diremas-remas. Seringkali rasa nyeri ini dirasakan di daerah epigastrium sehingga sering disalah interprestasikan sebagai dispepsia.

Kadangkala nyeri dada ini diikuti keringat dingin, mual, muntah, pusing, lemas, perasaan melayang, bahkan hingga pingsan (sinkop).

 

Penatalaksanaan Infark Miokard Akut (IMA).

Penatalaksanaan IMA dimulai pada tahap pra-rumah sakit,untuk itu diperlukan pendidikan yang memadai baik untuk masyarakat umum maupun petugas kesehatan.

aspirin

 

Masyarakat Umum.

Tindakan yang harus dilakukan bila menemukan pasien yang diduga mengalami IMA.

  • Segera mencari bantuan medis ke pelayanan kesehatan terdekat.
  • Telpon ambulan atau minta tolong kepada orang lain untuk mengantar ke pelayanan kesehatan terdekat.
  • Jangan biarkan pasien mengendarai kendaraan sendiri.
  • Bila tidak alergi, maka segera kunyah dan telan aspirin 300 mg.

 

Petugas Kesehatan.

Petugas kesehatan harus mampu melakukan RJP, mendiagnosa IMA, mengetahui pentingnya penanganan dan rujukan secara dini serta memberikan bantuan dasar hidup.

Tindakan yang harus dilakukan jika terdapat pengiriman ambulan untuk menjemput pasien yang dicurigai mengalami IMA, yaitu:

  1. Menanyakan keluhan pasien.
  2. Catat alamat dan nomor telepon.
  3. Bila mungkin, mintalah pihak keluarga untuk menunggu ditempat yang setrategis yang mudah dicapai.
  4. Segera berangkatkan ambulan dengan minimal 2 paramedis yang sudah terlatih.
  5. Jangan lupa, pasien harus diberikan oksigen (O2), aspirin, pasang infus dan segera dilarikan ke rumah sakut.
  6. Setelah sampai di rumah sakit, maka segera bawa ke ruang gawat darurat (UGD/IGD).

Penanganan di RS bertujuan untuk mengatasi nyeri, aritmia, dan melakukan reperfusi segera mungkin.

 

Komplikasi Infark Miokard Akut (IMA).

  • Syok.
  • Ruptur miokard.
  • Gagal jantung.
  • Edema paru.
  • Henti jantung nafas.
  • Aritmia.
  • Bradikardia.
  • AV block.
  • Takikardia.
  • Fibrilasi ventrikel.

 

Referensi.

  1. Modul Basic Trauma Cardiac Life Support. Edisi Revisi. AGD Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 2012.