Ketuban Pecah Dini (KPD)

Ketuban pecah dini

Ilustrasi selaput ketuban melindungi janin.

PerawatanKesehatan.com – Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang sangat erat kaitannya. lapisan ini terdiri atas beberapa sel yaitu sel epitel, sel mesenkrim, dan sel trofoblas yang terkait erat dalam matriks kolagen. Selaput ketuban berfungsi sebagai penghasil air ketuban dan melindungi janin dari infeksi. Dalam keadaan normal selaput ketuban akan pecah ketika proses persalinan berlangsung.

Ketuban pecah dini (KPD) adalah keadaan dimana selaput ketuban pecah sebelum proses persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi pada usia kehamilan di bawah 37 mgg disebut ketuban pecah dini pada kehamilan prematur [1].

 

Mekanisme Ketuban Pecah Dini.

Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuba rapuh. Terdapat keseimbangan sintesis dan degradasi ekstra selular matriks. Perubahan struktur, jumlah sel, dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen berubah sehingga menyebabkan selaput ketuban pecah.

 

Faktor resiko Ketuban Pecah Dini.

Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen adalah:

  • Kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur abnormal biasanya terjadi pada perokok.
  • Selaput ketuban masih sangat kuat pada saat kehamilan muda.
  • Pada trimester ke 3 biasanya selaput ketuban sangan rentan sehingga nudah mudah pecah.
  • Melemahnya kekuatan selaput ketuban sangat berhubungan erat dengan pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan geraka janin.
  • Kehamilan pada trimester ke 3 terjadi perubahan biokimia pada selaput ketuban.

Ketuban pecah dini pada kehamilan prematur dapat disebabkan oleh faktor-faktor eksternal,misalnya infeksi yang menjalar dari Mrs. Dan ketuban pecah dini prematur sering terjadi pada kehamilan dengan polihidramnion, inkompeten serviks, dan solusio plasenta.

 

Komplikasi Ketuban Pecah Dini.

Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini, antara lain:

  • Infeksi maternal maupun neonatal.
  • Persalinan prematur.
  • Hipoksia karena kompresi tali pusat.
  • Deformitas janin.
  • Meningkatkan insiden seksio sesarea.
  • Gagalnya persalinan normal.

 

Infeksi.

Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. pada ibu terjadi korioamnionitis sedangkan pada bayi dapat terjadi septikemia , pnemonia , omfalitis.

 

Persalinan prematur.

Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. pada kehamilan antara 28 – 34 mgg 50 % persalinan dalam 24 jam. pada kehamilan kurang dari 26 mgg persalinan akn terjadi dalam 1 minggu.

 

Hipoksia dan asfiksia.

Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion , semakin sedikit air ketuban , janin semakin gawat.

 

Sindrom deformitas janin.

Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin , serta hipoplasi pulmonar.

 

Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini.

  1. Pastikan diagnosis.
  2. Tentukan umur kehamilan.
  3. Evaluasi ada tidaknya infeksi  maternal ataupun infeksi neonatal.
  4. Apakah ada kegawatan janin pada saat inpartu.

 

Diagnosis Ketuban Pecah Dini.

  • Tentukan pecahnya selaput ketuban, dengan adanya cairan ketuban di Mrs. V.
  • Jika tidak ada dapat di coba dengan menggerakkan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk/mengejan.
  • Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazin test) merah menjadi biru.
  • Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan menggunakan pemeriksaan USG.
  • Tentukan tidak ada infeksi, tanda-tanda infeksi adalah bila suhu ibu lebih dari 38°C serta air ketuban keruh dan berbau.
  • Sel darah putih (lekosit) > 15.000/mm3, janin yang mengalami takikardia, mungkin mengalami infeksi intrauterin.
  • Tentukan tanda – tanda persalinan dan skoring pelvik.
  • Tentukan adanya kontraksi yang teratur , periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif ( terminasi kehamilan).

Operasi seksio caesaria

Ilustrasi operasi sesar.

 

Penanganan Ketuban Pecah Dini.

  • Konserfatif.
  • Rawat inap di Rumah sakit dan berikan antibiotik (ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari).
  • Bila umur kehamila <32- 34 minggu, maka rawat inap selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban berhenti keluar.
  • Bila umur kehamilan 32- 37 minggu dan belum inpartu serta tidak ada infeksi pada ibu/janin dan tes busa negatif, maka berikan saja deksametason.
  • Jangan lupa terus observasi tanda- tanda infeksi dan kesejahteraan janin.
  • Terminasi pada usia kehamilan sudah 37 minggu.
  • Bila usia kehamilan 32- 37 sudah inpartu dan tidak ada infeksi maka sebaiknya diberikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan kemudian lakukan induksi setelah 24 jam.
  • Sebaliknya bila usia kehamilan 32-37 minggu dan ada infeksi, sebaiknya berikan antibiotik dan segera lakukan induksi serta lakukan penilaian tanda – tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi intra aktif).
  • Bila usia kehamilan > 37 minggu lakukan induksi dengan oksitosin dan bila gagal lakukan operasi sesar.
  • Dapat pula diberikan misoprostol 25 mg – 50 mg intravaginal tiap 6 jam dan maksimal 4 x pemberian.
  • Bila ada tanda-tanda infeksi maka berikan antibiotik dosisi tinggi dan persalinan harus segera diakhiri.

 

Referensi.

  1. Ilmu Kebidanan Sarwono prawirohardjo/editor ketua, Abdul bari Saifuddin, editor, Trijatmo Rachimhadhi, Gulardi H. Wiknjosastro, Edisi Ke-IV, Jakarta: PT Bina Pustaja Sarwono Prawirohardjo, 2009.

Reply