Komplikasi Kehamilan (Preeklamsia)

PerawatanKesehatan.com – Kenali gejala-gejala komplikasi pada kehamilan dengan cara mempelajari cara mencegah dan penanganannya agar kehamilan dapat di jalani dengan lebih aman. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada ibu hamil dan jarang di ketahui oleh sang penderita adalah Pre-eklamsia atau sering di kenal dengan toxemia. Preeklamsia adalah kondisi dimana kehamilan disertai dengan naiknya tekanan darah meski tanpa adanya riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.

Bengkak pada kaki, tangan, dan wajah saat hamil

Memiliki buah hati yang sehat adalah impian setiap orang tua. Karena itu saat hamil, anda perlu melakukan upaya ekstra dalam menjaga kesehatan baik kesehatan ibu sendiri maupun kesehatan janin yang ada di dalam kandungan. Kenapa harus ekstra menjaga kesehatan? karena banyak ditemukan kasus, penyakit yang di derita calon ibu akan mempengaruhi kondisi janin yang ada di dalam kandungannya. Sedini apa komplikasi kehamilan dapat di deteksi? tergantung oleh jenis komplikasinya.

Komplikasi kehamilan bisa terjadi pada ibu hamil manapun. Banyak jenis komplikasi yang harus di waspadai sejak awal kehamilan. Inilah gunanya pada ibu hamil harus di lakukan pemeriksaan secara rutin sesuai yang sudah di jadwalkan oleh dokter maupun bidan sejak awal di nyatakan hamil. Diantara berbagai komplikasi yang terjadi pada kehamilan adalah keguguran berulang akibat perkembangan kantung rahimnya (gestasional sac) tidak sesuai dengan usia kehamilan sehingga janin tidak dapat berkembang secara normal yang biasa disebut dengan Intra uterin grouth retraktion (IUGR). Selain itu bisa juga karena adanya blighted ovum, dimana perkembangan kantung rahim di ikuti dengan adanya embrio di dalamnya. Blighted ovum 60% biasanya disebabkan adanya kelainan kromosom baik itu dari sel sperma atau sel telur bahkan bisa karena keduanya.

Tanda Gejala Preeklamsia.

Gejala umum preeklamsia adalah:

  • Naiknya tekanan darah secara signifikan semasa kehamilan.
  • Di temukannya protein urine.
  • Pusing kepala yang tidak hilang walau sudah di buat istirahat atau tidur.
  • Iritasi.
  • Berkurangnya jumlah urine.
  • Nyeri perut.
  • Pandangan mata menjadi kabur.
  • Bengkak dan terasa nyeri pada beberapa bagian tubuh yaitu pada wajah, tangan, maupun kaki akibat adanya penumpukan cairan.

Belum di ketahui secara pasti penyebab dari preeklamsia, namun penelitian yang di laukan oleh Harvard Medical School & Beth Israel Daeconess Medical center, 2003 menunjukkan bahwa resiko yang di hadapi ibu hamil dapat menderita preeklamsia adalah sebanyak 5-8 persen. Meski angka resiko ini terbilang rendah, namun preeklamsia merupakan penyebab utama kematian ibu saat melahirkan terutama di negara-negara berkembang.
Demikian kriteria ibu hamil yang beresiko tinggi mengalami preeklamsia:

  • Hamil di usia yang terlalu muda (remaja) yaitu usia kurang dari 16 tahun.
  • Hamil pertama pada usia yang terlalu tua yaitu lebih dari 35 tahun.
  • Terlambat haid atau hamil pertama setelah menikah lebih dari 4 tahun.
  • Jarak kehamilan yang terlalu lama yaitu lebih dari 10 thn.
  • Telalu cepat hamil lagi yaitu kurang dari 2 tahun.
  • Terlalu banyak anak (lebih dari 4 anak).
  • Tinggi badan terlalu pendek yaitu kurang dari 145 cm .
  • Pernah mengalami kegagalan pada kehamilan (riwayat keguguran di kehamilan sebelumnya).
  • Pernah melahirkan dengan tindakan ekstrasi vacum, uridorogh, bersalin dengan tranfusi darah maupun infus.
  • Pernah operasi sesar di persalinan sebelumnya
  • Menderita penyakit TBC paru, jantung, kencing manis (diabetes melitus) dan PMS.
  • Bengkak pada muka atau tungkai.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Kehamilan ganda atau hamil lebih dari satu janin ( multiple pregnancy ).
  • Hamil dengan air ketuban yang terlalu banyak.
  • Riwayat IUFD (Intra Uterin Fetal Death) bayi meninggal di dalam kandungan.
  • Kehamilan lewat waktu (usia kehamilan lebih dari 42 minggu)
  • Kehamilan dengan riwayat perdarahan oleh plasenta previa.
  • Kehamilan dengan riwayat operasi kandungan sebelumnya.
  • Letak janin yang tidak normal yaitu janin dengan letak sungsang maupun dengan letak lintang.
  • Riwayat preeklamsia berat kejang-kejang pada kehamilan maupun persalian.

 

Perawatan yang dilakukan terhadap penderita pre eklampsia tergantung pada kondisi si penderita itu sendiri, ada yang perlu mendapatkan perawatan yang intensif di rumah sakit ada juga yang cukup dengan melakukan tirah baring di rumah. Yang pasti pengobatan untuk menurunkan tekanan darah serta pengawasan terhadap kondisi ibu & janin perlu dilakukan secara terus-menerus. Penderita preeklampsia umumnya di sarankan melahirkan dengan tindakan operasi sesar untuk menghindari terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Ketika kita sudah mengetahui dampak-dampak yang akan terjadi akibat preeklamsia baik pada diri kita sendiri sebagai ibu hamil maupun pada janin yang ada di dalam kandungan kita, sebaiknya perlu kita berhati-hati dan sebisa mungkin menghindari faktor resikonya. Karena pada dasarnya mencegah akan lebih baik dari pada mengobati, sehingga sebaiknya ibu hamil harus lebih memperhatikan pola hidup yang di jalani sehari-hari.
Beberapa hal yang dapat dilakukan selama hamil agar tetap sehat tanpa penyulit dan komplikasi:

  • Sebaiknya ibu hamil meluangkan waktu untuk berolah raga ringan secara teratur mungkin dengan ikut senam hamil, yoga ringan, renang atau yang paling mudah yaitu jalan-jalan pagi dan streatching.
  • Makan makanan yang sehat dan bergizi seperti daging sehat tanpa lemak, ikan laut, sayuran hijau, kacang-kacangan dan buah-buahan. Selain itu, dapat ditambah dengan susu dan produk olahan dr bahan susu misal yogurt, keju dan lain sebagainya.
  • Kurangi konsumsi garam selama hamil, karena terlalu banyak mengkonsumsi garam atau makanan yang berasa asin dapat meningkatkan resiko hipertensi atau naiknya tekanan darah pada ibu hamil.
  • Minum air putih sesuai kebutuhan ibu hamil, agar produksi amnion atau air ketuban tercukupi untuk mengurangi resiko terjadinya kontraksi sebelum waktunya persalinan.
  • Istirahat cukup.
  • Hindari stress, karena stress pada ibu dapat berdampak buruk pula pada janin yang ada di dalam kandungan. Selain itu stress dan tekanan fikiran yang terlalu berat dapat pula meningkatkan resiko terjadinya hipertensi.
    mengkonsumsi vitamin sesuai dengan yang sudah di resepkan oleh dokter setiap hari.
  • Rutin periksa kehamilan sesuai anjuran bidan maupun dokter yang menangani agar jika ada masalah ataupun komplikasi yang menyertai kehamilan dapat terdeteksi secara dini agar segera diatasi, sehingga tidak menimbulkan masalah yang semakin besar.
  • Sesekali dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium yaitu protein urin, glukosa darah, Hb, dan HbsAg.

Semoga bermanfaat. Terima kash. Salam dari Tim Perawatan Kesehatan.

Referensi:
  1. Rusmalia M. Salman. 30 Perubahan tubuh selama hamil. Jakarta: Penerbit Puataka Kemang. 2016.