Patah Tulang (Fraktur)

PerawatanKesehatan.com – Definisi patah tulang adalah terputusnya kontinuitas korteks tulang menjadi dua bagian atau lebih sehingga menimbulkan gerakan yang tidak normal yang disertai krepitasi (suara keretak-keretak) dan nyeri [1]. Patah tulang berarti simpai dan ikat sendi terkoyak [2]. Bila terjadi patah tulang (fraktur), maka tulang harus dimobilisasi untuk mengurangi terjadinya cedera yang berkelanjutan serta untuk membantu mengurangi rasa sakit pasien.

patah tulang

Gambar diatas adalah contoh pertolongan pertama korban patah tulang di unit gawat darurat. © Bayu Setiawan A.Md. Kep.

 

Penyebab Patah Tulang (Fraktur).

Berikut beberapa penyebab patah tulang, yaitu:

  • Terjadi saat tekanan yang menimpa tulang lebih besar dibandingkan dengan daya tulang akibat trauma.
  • Karena penyakit tulang, misalnya tumor osteoporosis (pengeroposan tulang).
  • Akibat dari penggunaan tulang yang berulang-ulang (fraktur stress/fatique).

 

Tanda Gejala Patah Tulang (Fraktur).

Pada umumnya gejala patah tulang adalah rasa sakit yang terlokalisir pada bagian yang patah. Biasanya pasien akan mengatakan ada yang menggigitnya atau merasakan adanya tulang yang patah. Apa yang dikatakan oleh pasien merupakan sumber informasi yang akurat. Sedangkan pada pasien dengan banyak trauma, patah tulang adalah trauma yang paling nyata dan hal yang serius. Dalam hal ini biasanya dilakukan primary survey dan melakukan penanganan yang mengancam nyawa terlebih dahulu dilanjutkan dengan tindakan penanganan trauma dan stabilisasi bila memungkinkan.

Berikut tanda dan gejala patah tulang adalah:

#1. Swelling (bengkak), terjadi kerena ada kebocoran cairan extra seluler dan darah dari pembuluh darah yang telah robek pada patah pangkal tulang.

#2. Deformitas (kelainan), pada kaki dapat menunjukkan adanya trauma sistem rangka.

#3. Tenderness (nyeri lepas tekan), hingga palpitasi (denyut jantung tidak normal) biaasanya terlokalisir diatas area trauma sistem rangka yang dapat dirasakan dengan penekanan secara halus di sepanjang tulang.

#4. krepitasi (suara keretak-keretak), dapat terjadi jika bagian tulang yang patah bergesekan dengan tulang yang lainnya. Dalam kondisi ini jangan pernah berusaha untuk mengubah posisi karena hanya akan menyebabkan nyeri dan trauma lebih lanjut.

#5. Disability (keterbatasan), juga termasuk dalam karakteristik dari kebanyakan trauma sistem rangka pasien dengan patah tulang akan berusaha menahan lokasi trauma tetap pada posisi yang nyaman dan juga akan menolak untuk menggerakkannya.

#6. xposed bone ends (terkena ujung tulang), didiagnosa sebagai trauma terbuka (patah tulang terbuka).

 

Jenis-jenis Patah Tulang (Fraktur).

  • Fraktur terbuka, yaitu keadaan patah tulang yang disertai dengan gangguan integritas kulit [1]. Patah tulang terbuka biasanya dapat ditemukan dengan mudah pada penderita trauma.
  • Fraktur tertutup, yaitu keadaan patah tulang tanpa disertai dengan hilangnya integritas kulit [1].

 

Tipe-Tipe Patah Tulang (Fraktur).

  • Fraktur oblique (miring), yaitu garis patahnya melintang pada tulang tegak lurus dan oblik.
  • Fraktur comminuted (terbagi beberapa kepingan patahan), yaitu dimana tulang terbagi menjadi lebih atau dua bagian.
  • Frakur spiral (melintir), biasanya terjadi karena kecelakaan memutar/terpelintir dan tidak ada garis patahnya.
  • Fraktur greenstick (tongkat hijau), yaitu garis patahnya melintang lurus pada bagian luar dari tulang perpendicular hingga batas tengah tulang. Biasanya terjadi pada anak-anak yang dimana tulangnya masih dapat dibengkokkan seperti dahan yang masih muda.
  • Fraktur tranversal (melintang), yaitu garis patah tulangnya memotong melintang dari arah luar sampai menembus bagian tengah secara tegak lurus dari tulang. Biasanya disebabkan oleh kecelakaan secara langsung.

 

Penatalaksanaan Patah Tulang (Fraktur).

Kejadian fraktur jarang yang mengancam nyawa, oleh karena itu, biasanya penanganan pada patang tulang harus di tunda hingga penanganan yang mengancam nyawa telah dilakukan dan hingga kondisi pasien telah stabil.

Masyarakat Umum.

Menurut jenisnya patah tulang dibagi menjadi dua bagian, sehingga dalam melakukan pertolongan harus dibedakan.

Pada fraktur terbuka, akan menyebabkan pendarahan yang hebat. Upaya pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah:

  • Jangan pernah mencoba untuk menggerakkan bagian tubuh yang patah (kecuali terdapat ahli).
  • Menghentikan perdarahan.
  • Menutup bagian tubuh yang luka dengan pembalut kain.
  • Meletakkan anggota tubuh yang patah pada posisi yang lebih tinggi dari pasa jantung.
  • Bawa korban dengan sangat hati-hati secepatnya ke pusat kesehatan (seperti rumah sakit, klinik, puskesmas) terdekat.

Sedangkan untuk fraktur tertutup, tidak menyebabkan pendarahan. Upaya pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah:

  • Jangan mencoba melurus atau menggerakkan bagian tubuh yang dicurigai patah.
  • Meletakkan anggota tubuh yang patah pada posisi lebih tinggi dibandingkan jantung.
  • Bila ada luka luar, maka rawatlah luka tersebut terlebih dahulu.
  • Bawalah korban ke pusat pelayan kesehatan terdekat. [2]

Petugas Kesehatan.

  • Menstabilkan atau mempertahankan jalan nafas.
  • Kontrol perdarahan.
  • Tutup luka terbuka pada dada (bila ada).
  • Resusitasi cairan (pemberian cairan dengan cepat).
  • Bila terdapat fraktur terbuka, maka balut luka sebelum melakukan pembidaian dan jangan mendorong kembali tulang yang tampak.
  • Jangan pernah untuk berusaha meluruskan patahan (termasuk sendi-sendi), walaupun terdapat beberapa tulang yang dapat di luruskan.
  • Tourniket tidak dianjurkan pada fraktur terbuka, kecuali pada anggota gerak yang tidak diselamatkan lagi (trauma amputasi).
  • tirah baring (imobilisasi) tulang gerak (tangan/kaki) sebelum memindahkan pasien dan terah baring sendi pada bagian atas dan bawah dari tulang yang patah.

Tujuan dilakukan tirah baring (imobilisasi) yaitu:

  1. Mengurangi rasa nyeri.
  2. Meminimalkan peradarahan.
  3. Meminimalkan bengkak.
  4. Menjaga fraktur tertutup supaya jangan menjadi fraktur terbuka.

 

Referensi.

  1. Modul Basic Trauma Cardiac Life Support. Edisi Revisi. AGD Dinas Kesehatan provinsi DKI Jakarta. 2012.
  2. Heri rustanto, Rony hernawan. Pendidikan Jasmani, untuk SMA kelas I. Klaten: Viva Pakarindo.

 

 

Reply