Faktor Risiko dan Gejala Penyakit Jantung Koroner (PJK)

PerawatanKesehatan.com – Penderita penyakit jantung koroner (PJK), penderita dengan faktor risiko, atau keluarga penderita dan masyarakat umum harus mendapat penerangan tentang:

  • Faktor resiko PJK.
  • Gejala penyakit jantung seperti nyeri dada, palpitasi, dan sesak nafas.
  • Gejala infark miokard akut (IMA).
  • Pentingnya penanganan secara dini.
  • Langkah yang harus diambil bila gejala tersebut muncul.
  • Penerangan ini dapat disampaikan melalui media massa, forum pertemuan masyarakat, sekolah, internet dan penyuluhan di rumah sakit.

 

Penyakit jantung koroner

Gambar 1. Aterosklerosis © Wikipedia.

 

Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Menurut studi epidemiologi sudah berhasil mengidentifikasi apa saja faktor-faktor resiko PJK, yaitu:

  • Merokok (berapapun jumlahnya).
  • Kadar kolesterol total dan kolesterol LDL (jahat) yang tinggi.
  • Kadar kolesterol HDL (baik) yang rendah.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Diabetes mellitus (penyakit kencing manis).
  • Berusia lanjut.

Faktor resiko ini sifatnya independent dan aditif, maksudnya semakin banyak seseorang mempunyai faktor risiko, maka semakin besar resikonya untuk menderita penyakit aterosklerosis (timbunan lemak dalam pembuluh darah).

Selain yang disebutkan diatas, terdapat juga faktor-faktor lain yang berhubungan meningkatkannya risiko penyakit jantung koroner (PJK), yaitu faktor predisposisi dan faktor kondisional.

Faktor predisposisi adalah faktor yang memperbesar risiko terjadinya PJK yang diakibatkan oleh faktor-faktor risiko diatas [1]. Faktor-faktor ini yaitu:

  • Kegemukan (obesitas).
  • Perut buncit (lingkar pinggang >94 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk wanita).
  • Kebiasaan aktifitas fisik kurang bergerak.
  • Riwayat keluarga ada yang menderita PJK pada usia muda (<55 tahun untuk laki-laki dan <60 tahun untuk wanita).
  • Suku bangsa tertentu.
  • Faktor psikososial.

Evaluasi faktor risiko PJK sangatlah penting, sehingga dalam melakukan penanganannya dapat dilakukan secara komprehensif dengan prioritas yang benar. Penderita dengan faktor resiko tinggi atau penderita yang sudah terbukti menderita penyakit aterosklerosis, maka penanganan faktor resiko harus dilakukan dengan lebih agresif.

Gejala Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Berdasarkan keluhan nyeri dada, gambaran elektrokadiogram (EKG), dan perubahan enzim maka dikelompokkan menjadi 3 , yaitu:

  1. Angina pektoris tak stabil (UAP).
  2. Non-ST elevasi miokard infark (NSTEMI).
  3. ST elevasi miokardial infark (STEMI).

 

Pemeriksaan klinis Keluhan nyeri EKG Enzim
UAP nyeri muncul ketika beristirahat, lamanya >20 detik, ada peningkatan frekuensi nyeri atau perburukan tidak hilang dengan istirahat.
  • Tidak ada perubahan EKG.
  • ST-Depresi.
  • T-Inverted.
Tidak ada perubahan (Trop T 0,03 mg/dl
NSTEMI Nyeri ketika beristirahat, lamanya > 20 detik, ada peningkatan nyeri, penurunan toleransi aktifitas.
  • Tidak ada perubahan EKG.
  • ST-Depresi.
  • T-Inverted.
  • Trop -T 0,03 mg/dl.
  • CKMB > 25 mg/dl.
STEMI Nyeri dada di bawah tulang dada, lamanya > 30 detik, tidak hilang meskipun sudah beristirahat, ada penjalaran nyeri.
  • ST-Elevasi.
  • New LBBB.
  • Trop-T > 0,03 mg/dl.
  • CKMB > 25 mg/dl.

Tabel 1. Gejala Penyakit Jantung Koroner (PJK).

 

Referensi.

  1. Modul Basic Trauma Cardiac Life Support . Edisi Revisi. Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 2012.

Reply