Perubahan Berat Badan Saat Hamil

PerawatanKesehatan.com – Kehamilan selalu di ikuti dengan perubahan tubuh, perubahan tubuh yang pertama kali terjadi adalah perubahan perut yang semakin lama semakin membuncit & berat tubuh yang naik karena perkembangan janin. Hal ini dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh ibu hamil.
Umumnya pertambahan berat badan (BB) calon ibu selama kehamilan sekitar 10-12,5 kilogram. Tentunya tinggi badan (TB) ibu mempengaruhi pertambahan BB selama hamil. Sebagai contoh, calon ibu dengan tubuh yang tinggi relatif memilih pertambahan BB yang lebih besar ketimbang calon ibu yang lebih pendek.
Untuk calon ibu dengan badan yang kurus sebelum hamil, diharapkan BB naik sekitar 12,5-18,5 kg, sedangkan bagi calon ibu dengan badan normal diharapkan BB naik sekitar 11,5-12,5 kg. Sementara calon ibu dengan berat badan gemuk sebelum hamil, diharapkan BB naik sekitar 7- 11,5 kg. Anda tergolong obesitas bila memiliki kelebihan berat badan 30% dari berat normal , sesuai tinggi badan. Panduan yang di kenal sebagai IMT (Indeks Masa Tubuh / Body Mass ) adalah berat badan (dalam kilogram/kg) di bagi tinggi badan (dalam meter di kuadratkan/m2).
IMT = BB (kg) ÷ TB (m2)
  • Bila IMT anda antara 18,5 -25 berat badan anda tergolong normal.
  • Bila IMT anda antara 25- 28,9 artinya kelebihan berat badan (kegemukan).
  • Bila IMT anda diatas 30, Anda tergolong Obesitas.
  • Bagi anda yang extra Large , jaga agar kenaikan berat badan selama masa kehamilan hanya berkisar 6-11 kg saja.

 

Simak video cara menghitung IMT berikut ini:

Berat Badan Tak Naik.
Pertambahan BB selama hamil sangat di pengaruhi oleh asupan makanan. Bila calon ibu mengalami kekurangan gizi, diharapkan pada Trimester 2 dan 3 berat badannya bertambah sebanyak 500 gram perminggu. Sementara calon ibu yang di ketahui bergizi lebih atau kegemukan disarankan menambah BB sebanyak 300 gram saja perminggu.
Bagaimana bila BB calon ibu tidak mengalami kebaikan?
Hal ini dapat terjadi karena asupan makanan dan kebutuhan tubuh tidak seimbang atau asupan makanan yang di dapat lebih sedikit dari ketuban. Kondisi tersebut  bisa menyebabkan resiko janin kekurangan gizi , bayi lahir dengan berat badan rendah sehingga berdampak pada tumbuh kembang bayi di kemudian hari.
Terlalu Kurus.
Calon ibu yang berbadan kurus beresiko bayi lahir prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR) bahkan dapat beresiko perdarahan pada saat persalinan. Study yang dilakukan London School of Hygiene dan Tropical Medicine, menunjukkan sekitar 72 % calon ibu yang berat badannya kurang memgalami keguguran pada trimester pertama. Karena itu , untuk menghindari keguguran, calon ibu perlu mengkonsumsi suplemen asam folat , zat bezi , dan vitamin lainnya. Porsi makan juga perlu diatur dengan baik agar kenaikan BB sesuai yang di butuhkan.
Terlalu Gemuk.
Calon ibu dengan BB berlebih juga tak luput dari resiko seperti bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), perdarahan atau keracunan kehamilan, tekanan darah tinggi , diabetes , janin tumbuh besar sehingga menyulitkan lahir secara normal , serta komplikasi saat persalinan.

Referensi.

  1. Rusmalia M. Salman. 30 perubahan selama hamil : menghilangkan kecemasan saat persalinan dan komplikasi kehamilan/ Rusmalia B. Salman. Jakarta : Penerbit Pustaka Kemang, 2016.
  2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.
  3. Materi Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Paramedis. Pusat Hiperkes dan KK Disnakertrans Provinsi DKI Jakarta. 2012.

Reply