Pingsan (Sinkop)

PerawatanKesehatan.com – Pingsan (Sinkop) adalah suatu kehilangan kesadaran sekilas yang disertai dengan hilangnya tonus postural, tetapi akan membaik secara spontan tanpa membutuhkan resusitasi [1]. Pingsan memiliki penyebab dasar yang ganda dan dikhawatirkan dapat meningkatkan resiko tertinggi terhadap kematian bila disebabkan oleh jantung. Bila tanpa melihat penyebabnya, pingsan dapat menyebabkan terjadinya jatuh, patah tulang, hilangnya fungsi otonom, serta dapat juga menyebabkan perdarahan subdural (diluar otak) akibat posisi saat jatuhnya.

Menurut Jonsson dan Lipsitz, 1994 menunjukkan bahwa kejadian pingsan pada usia muda mencapai 47 persen, dan terutama yang berhubungan dengan hal-hal yang jinak misalnya reaksi-reaksi vasovagal. Sedangkan data dari studi Framingham menunjukkan adanya kenaikan kejadian pingsan yang berhubungan dengan pertambahan usia.

 

Penyebab Pingsan (Sinkop).

Berikut beberapa penyakit dan kondisi yang dapat menjadi penyebab terjadinya sinkop adalah:

  • Penyakit jantung (terutama yang menurunkan curah jantung) seperti stenosis aorta (kelainan katub jantung), regurgitasi mitral (kerusakan katub jantung), stenosis mitral (penyempitan katub mitral), kardiomiopati (lemah jantung), infark miokard akut (kematian otot jantung), takiaritmia (denyut jantung cepat) dan bradiaritmia (denyut jantung lambat).
  • Tekanan darah rendah (hipotensi) seperti hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah yang tiba-tiba), hipotensi postprandial  (penurunan darah berlebih setelah makan), dan penurunan cairan tubuh.
  • Refleks (vasovagal, defecation, micturition, cough, swallowing, dan carotid sinus syndrome).
  • Kandungan darah yang tidak normal seperti hipoksemia (penurunan konsentrasi oksigen), hipoglikemia (rendahnya gula darah), dan anemia (kekurangan sel darah merah) akut.

Selain yang tersebut diatas, berkisar antara 30-50% masih belum dapat dijelaskan tentang penyebab pingsan, meski telah dievaluasi cukup jauh. Dalam proses evaluasi penyebab, anamnesis merupakan bagian yang terpenting. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan anamnesa, yaitu:

  1. Apakah ada faktor pencetus?
  2. Adakah gejala-gejala yang ada hubungannya dengan penyebab?
  3. Adakah obat-obatan yang dicurigai?
  4. Kapan gejala terakhir muncul?

 

Pada pemeriksaan fisik akan memberikan keterangan lebih lanjut. Sedangkan pada pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, elektrokardiogram (EKG), elektrokardiografi, elektroensefalogram, dan fungsi otonom akan mendekatkan pada diagnosis.

Pingsan pada lanjut usia mudah menyebabkan jatuh dan dapat menyebabkan patah tulang, terutama pada mereka yang menderita osteoporosis (pengeroposan tulang).

 

Penanganan Pingsan (Sinkop).

Masyarakat Umum.

Pertama kali ketika menemukan korban pingsan harus dicek pernafasannya. Selain itu, penolong harus memeriksa mulut korban karena korban pingsan lebih mudah tercekik. Setelah itu cara yang dapat dilakukan dalam memberikan bantuan dasar hidup kepada korban adalah sebagai berikut:

  • Bila kondisi korban tidak membahayakan dirinya, maka berikan pertolongan di tempat kejadian.
  • Periksa pernafasaan.
  • Periksa apakah korban tidak tercekik.
  • Periksa apakah ada pendarahan.
  • Balut luka (bila ada).
  • Bila dicurigari terdapat patah tulang, maka jangan menggerakkan bagian tubuh yang patah.
  • Lakukan pencegahan bila korban mengalami syock.
  • Carilah bantuan pertolongan.
  • Jaga benda-benda milik korban.
  • Bila ada kesempatan segera untuk meminta bantuan kepada dokter atau polisi.
  • Menunggui korban hingga petugas kesehatan datang. [2]

 

Pengobatan Pingsan Pada Usia Lanjut Oleh Petugas Kesehatan.

Tujuan dalam pengobatan pada usia lanjut adalah untuk mencegah morbiditas (kondisi sakit) dan mortalitas (ukuran jumlah kematian) sehubungan episode yang berulang. Selain itu, harus meminimalkan faktor resiko yang mungkin ada pengaruhnya. Dan bila mendapatkan terapi obat, maka jangan sampai menimbulkan efek toksik (lebih berat dari pada efek samping). Tetapi, bila mungkin hilangkanlah penyakit dasarnya. Jangan lupa untuk selalu memperhatikan geriatric problems (permasalahan pada lansia).

 

Referensi.

  1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid III. Jakarta: BPFKUI. 2007.
  2. Heri Rustanto, Roni hermawan. Pendidikan Jasmani untuk SMA kelas I. Klaten: Viva Pakarindo.