Plasenta Previa Pada Ibu Hamil

PerawatanKesehatan.com – Plasenta atau yang lebih dikenal dengan sebutan ari-ari bertugas untuk menyalurkan makanan & oksigen dari sang ibu ke janin. Selain itu, plasenta juga bertugas untuk memproduksi hormon kehamilan serta mengangkut bahan-bahan yang tidak berguna dari tubuh janin untuk dibuang melalui urine maupun feses Ibu. Normalnya plasenta (ari-ari) tumbuh di dalam bagian atas rahim. Namun, kadang ada juga plasenta yang tumbuh di lokasi lain sehingga menyebabkan terjadinya penyulit dalam kehamilan. Biasanya plasenta yang tumbuh di bagian atas rahim akan tumbuh di bagian segmen bawah Rahim sehingga dapat menutupi jalan lahir yang dapat di sebut dengan plasenta previa. Hal tersebut dapat terjadi karena dinding atas Rahim memiliki kondisi yang kurang baik sehingga plasenta mencari tempat tumbuh di tempat lain.

 

Tidak semua ibu hamil mengalami plasenta previa tetapi hanya sekitar 0,5% saja. Pada ibu yang pernah memiliki riwayat hamil dengan plasenta previa di kehamilan sebelumnya maka peluang untuk kembali mengalami plasenta previa di kehamilan selanjutnya yaitu 4-8%. Plasenta previa tidak dapat di deteksi hanya dengan pemeriksaan palpasi abdominal, karena biasanya hanya dapat di deteksi lewat pemeriksaan USG kandungan. Lebih akurat lagi jika menggunakan USG transV** melalui mrs.V. Diagnosa plasenta previa dapat di tegakkan bila plasenta tumbuh di bawah Rahim pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu.

 

Bagi ibu hamil yang mengalami plasenta previa disarankan rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan (sp.OG) untuk menjalani pemeriksaan lanjutan & supaya dokter dapat melakukan tindakan untuk mengatasinya. Bila selama hamil ibu tidak pernah melakukan pemeriksaan USG maka kemungkinan besar jika ada penyulit seperti plasenta previa tidak akan terdeteksi, apalagi bila kehamilan yang dijalani lancar-lancar saja, misalnya tidak pernah mengalami perdarahan per Mrs.V selama kehamilan. Plasenta previa memang tidak dapat dicegah, Namun plasenta previa dapat dideteksi sejak dini, maka sebaiknya segera melakukan pemeriksaan kehamilan dengan USG kandungan setelah di ketahui positif hamil.

 

Plainless bleeding (perdarahan tanpa nyeri pada kehamilan) adalah salah satu tanda terjadinya plasenta previa. Tetapi, dapat juga plasenta previa baru dapat diketahui pada saat ibu hamil akan melakukan proses persalinan, sehingga terpaksa dokter mengambil tindakan operasi sesar untuk mengakhiri kehamilan ibu. Karena bila di paksakan bersalin secara normal maka akan terjadi perdarahan yang hebat, sehingga mengancam keselamatan ibu dan meningkatkan resiko perdarahan setelah bersalin. Selain pada ibu perdarahan juga akan beresiko pada janin karena dapat menyebabkan kelahiran prematur dan lebih parahnya dapat menyebabkan janin meninggal karena terpaksa harus di lahirkan sebelum waktunya. Namun, ibu tidak perlu khawatir secara berlebihan karena jika di tangani dengan cepat dan tepat, maka tidak akan berakibat fatal pada ibu maupun janin. Melalui pemeriksaan USG pada trimester III, bisa di ketahui bila ada kemungkinan plasenta kembali bergeser ke tempat seharusnya. Jika memang plasenta bergeser ke bagian atas Rahim seiring bertambahnya usia kehamilan, maka ibu boleh merasa lega karena bebas dari ancaman terkena plasenta previa.

 

Tanda Gejala Prasenta Previa.

Tanda gejala yang muncul antara lain adalah:

  • Terjadi Perdarahan tanpa rasa sakit (painless bleeding) pada ibu hamil. Warna darahnya merah terang atau merah segar, volumenya bisa saja banyak bisa saja sedikit, darah bisa keluar secara terus-menerus juga bisa kadang-kadang.
  • Bagian terbawah janin tidak kunjung masuk ke rongga panggul karena terhalang oleh plasenta (ari-ari).
  • Posisi janin tidak normal yaitu bisa melintang maupun sungsang.
  • Kadang- kadang di temukan usia janin lebih kecil dari usia kehamilan yang disebabkan karena sirkulasi darah yang terhambat.

 

Penanganan plasenta previa pada Ibu hamil salah satunya adalah mencegah terjadinya perdarahan dengan cara selalu memantau kondisi kandungan secara rutin & teratur, dan juga dengan istirahat cukup selama hamil karena hingga kini belum ada cara untuk mencegah terjadinya plasenta previa. Dan jangan lupa konsultasikan pada bidan atau dokter sp.OG mengenai langkah-langkah apa saja yang harus di lakukan jika terjadi kontraksi atau perdarahan.

 

Referensi.
  1. Rusmalia M. Salman. 30 Perubahan tubuh selama hamil. Jakarta: Penerbit Pustaka Kemang. 2016.

Reply