Sindrom Syok Dengue (SSD)

Cairan kristaloid

Cairan kristaloid (NaCl, RL, Glukosa).

PerawatanKesehatan.com – Pengertian sindrom syok dengue (SSD) adalah demam berdarah dengue (DBD) yang ditandai oleh syok/renjatan [1]. DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Penularan infeksi virus ini pada manusia terjadi melalui nyamuk (terutama Aedes Aegypti dan A. albopictus). Angka kematian yang disebabkan oleh SSD sepuluh kali lipat dibandingkan dengan pasien DBD tanpa disertai renjatan.

 

Tanda Gejala Sindrom Syok Dengue (SSD).

Pada umumnya pasien mengalami demam tinggi secara tiba-tiba. Pada tahap demam ini biasanya berlangsung selama 2-7 hari, kemudian diikuti oleh tahap kritis selama 2-3 hari. Pada tahap ini biasanya penderita sudah tidak mengalami demam, tetapi berisiko tinggi untuk terjadinya renjatan.
Keterlambatan pasien DBD dalam mendapatkan pertolongan/pengobatan maka renjatan dapat terjadi. Selain itu, kurangnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda terjadinya renjatan dini juga dapat memicu terjadinya sindrom syok dengue.
Tanda dan gejala SSD sama seperti halnya pada DBD. Akan tetapi, pada SSD disertai dengan kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi yang cepat dan lemah, menurunnya tekanan darah, kulit terasa dingin dan lembab serta pasien tampak gelisah. (Baca juga: Perbedaan demam dengue (DD) dengan demam berdarah dengue (DBD)

 

Pencegahan Sindrom Syok Dengue (SSD).

Bila salah satu anggota keluarga anda mengalami demam selama 3 hari tidak turun-turun, meskipun sudah meminum obat penurun panas. Maka segera untuk pergi ke sarana pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.

 

Sindrom syok dengue

Ilustrasi perawatan DBD di rumah sakit.

 

Penatalaksanaan Sindrom Syok Dengue Di Sarana Pelayanan Kesehatan.

Bila kita berhadapan dengan penderita sindrom syok dengue, maka hal pertama yang harus di ingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi. Oleh sebab itu, pemberian cairan intravaskular dilakukan untuk penggantian cairan tubuh yang hilang harus segera di lakukan. Pada kasus SSD pilihan utama yang diberikan adalah cairan kristaloid. Cairan kristaloid adalah cairan yang mengandung air dan elektrolit, dan atau gula dengan berbagai campuran. Contoh cairan kristaloid adalah NaCl, RL, dan Dextrose.
Selain manajemen cairan, penderita juga diberikan oksigen 2-4 liter per menit. Dan jangan lupa untuk mengambil sample darah guna untuk pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, hemostasis, analisa gas darah, kadar natrium, kalium, dan klorida, serta ureum dan kreatinin.

 

Bila setelah diberikan cairan renjatan belum juga teratasi dan bila nilai hematrokit meningkat berarti perembesan plasma masih berlangsung, maka pemberian cairan koloid merupakan pilihan. Tetapi bila nilai hematrokit menurun, berarti terjadi perdarah maka pasien harus diberikan transfusi darah.

 

Referensi.

  1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid III. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
  2. Modul Basic Trauma Cardiac Life Support. Edisi revisi. AGD Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 2012.