Tanda Tanda Kematian Dari Segi Mediko-Legal

Tanda tanda kematian

PerawatanKesehatan.com – Dahulu kematian hanya ditandai dengan tidak berfungsinya lagi jantung. Sedangkan konsep baru sekarang kematian ditandai dengan berhentinya fungsi pernafasan, jantung, dan otak. Dimana ketika kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada saat itu bila diperiksa dengan EEG (elekro-ensefalo-grafi) akan diperoleh garis yang datar. Sehingga tanda tanda kematian dapat dinyatakan sebagai berikut:

Tanda yang Segera Di kenali Setelah Kematian.

1. Berhentinya sirkulasi darah.
Dengan berhentinya jantung berdenyut maka aliran darah dalam arteri juga akan berhenti. Denyut nadi sudah tidak dapat di raba lagi. Sedangkan pada pemeriksaan auskultasi juga tidak dapat didenger bunyi jantung. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat memastikan berhentinya sirkulasi darah adalah:

  • Elektokardiogram (EKG). Lima menit setelah kematian tidak akan tampak lagi aktifitas listrik jantung pada EKG.
  • Respon terhadap luka, misalnya karena terbakar korek api, pada seseorang yang masih hidup akan tampak lepuhan dengan garis merah yang tegas (hal ini menunjukkan adanya sirkulasi darah).
  • Bila arteri terpotong pada seseorang yang masih hidup maka akan tampak aliran darah keluar. Tetapi pada orang yang telah meninggal hal ini tidak terjadi karena dimana sudah tidak ada lagi sirkulasi darah.
  • Tes diafanus, yaitu bila seseorang yang masih hidup, maka warna dari jaringan diantara pangkal jari tangan akan berwarna merah (hal ini akan tampak lebih jelas bila dilihat sambil menyorot tangan dengan lampu). Tetapi bila seorang telah meninggal, maka warnanya akan menjadi kuning pucat.
  • Tes icard, yaitu bila seseorang masih hidup disuntikkan zat floresen secara hipodermis, maka warna kulit disekitarnya akan terlihat kehijauan. Tetapi bila seseorang telah meninggal hal diatas tidak akan terjadi karena tidak ada lagi sirkulasi darah.
  • Magnus, yaitu pada pangkal jari diberi ikatan yang cukup kuat agar dapat menghambat aliran darah vena tetapi tidak sampai menghambat sirkulasi arteri. Bila jari tersebut masih tetap berwarna putih (masih tetap) maka sirkulasi darah telah terhenti.

2. Berhentinya pernafasan.

Henti nafas akan menyusul setelah terjadi kematian. Dapat dibuktikan dengan tidak adanya suara nafas pada bagian dada. Untuk memastikan berhentinya fungsi pernafasan biasanya cukup dengan auskultasi pada bagian dada. Selain itu juga dapat dilakukan dengan tes cermin (cermin yang dingin dan bersih ditempatkan pada rongga hidung seseorang, bila orang tersebut masih hidup maka akan tampak berkas penguapan berupa kabut pada cermin tersebut) dan tes winslow (secangkir cairan air raksa/air diletakkan pada bagian dada/perut, bila orang tersebut masih hidup maka gerakan respirasi akan menunjukkan gelombang pada cairan yang diamati dari pantulan cahaya dari cairan tersebut).

Pada beberapa kasus, berhentinya sirkulasi dan pernafasan saja belum tentu cukup untuk dapat memastikan bahwa orang tersebut sudah mati.  Hal ini berdasarkan atas beberapa kasus yang pernah dilaporkan dimana sirkulasi dan pernafasan telah terhenti untuk beberapa waktu, tapi orangnya masih hidup dan tubuhnya kembali berfungsi dengan baik.

Tanda-Tanda Kematian Setelah Beberapa Saat Kemudian.

1. Perubahan pada mata.

  • Tekanan bola mata menurun.
  • Kilatan kornea sudah tidak ada lagi.
  • Kornea menjadi keruh dan akhirnya berwarna putih.
  • Refleks kornea dan konjungtiva sudah tidak ada.
  • Pupil mengalami dilatasi dan tidak beraksi meskipun diberikan tetesan atropin/eserin.

2. Perubahan pada kulit.

  • Kulit kehilangan sinarnya.
  • Kulit kehilangan sifat elastisitasnya.
  • Kulit menjadi pucat.

3. Perubahan temperatur tubuh.

Suhu tubuh pada orang yang telah mati akan perlahan-lahan sama dengan suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya menurun. Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan suhu mayat adalah usia, jenis keIamin, cara kematian, dan lingkungan sekitar mayat. Mayat yang tidak terbungkus akan lebih cepat menurun suhunya dibandingkan mayat yang terbungkus pakaian.
4. Lebam mayat (hipostasis, post mortem staining, livor mortis, vibises, dan suggilation).

Lebam mayat terjadi karena akibat dari terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan disertai dengan pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah/bagian tubuh yang tergantung.

Setelah seseorang mati, mayatnya menjadi benda mati sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Pada awalnya lebam mayat berupa bercak. Bercak ini dalam waktu sekitar 6 jam semakin meluas yang pada akhirnya akan membuat warna kulit menjadi gelap.

Tanda-Tanda Kematian Setelah Selang Waktu yang Lama.

1. Proses Pembusukan.

Pembusukan terjadi akibat dari adanya enzim yang berasal dari mayat itu sendiri. Enzim-enzim tersebut dilepaskan setelah mati, akam tetapi dapat juga dihasilkan dari hasil kerja bakteri maupun jamur. Biasanya bakteri terdapat pada saluran gastro-intestinal manusia yang masih hidup. Setelah mati, dalam waktu yang singkat bakteri tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh, melewati pembuluh darah.

2. Saponifikasi/adiposera.

Pada mayat yang tidak mengalami proses pembusukan yang biasa, akan tetapi mengalami pembentukan adiposera. Adeposera adalah substansi mirip seperti lilin yang lunak, licin, dan warnanya bermacam-macam mulai dari putih keruh hingga coklat tua. Adiposera mengandung asam lemak bebas yang dibentuk melalui proses hidrolisa & hidrogenasi seletah kematian. Terbentuknya adiposera bervariasi,  antara dari 1-10 minggu.

3. Mumifikasi.

Mumifikasi adalah mayat yang mengalami pengawetan akibat dari proses pengeringan dan pengusutan bagian-bagian tubuh. Kulit menjadi keras dan kering serta menempel pada tulang kerangka. Sehingga mayat menjadi lebih tahan terhadap pembusukan. Mumifikasi biasanya terjadi pada daerah yang panas dan lembab, dimana saat mayat di kuburkan tidak terlalu dalam dan angin yang panas selalu bertiup sehingga mempercepat proses penguapan cairan tubuh. Terjadinya mumifikasi berkisar antara 4 bulan hingga beberapa tahun.
Demikian coret-coretan tentang tanda-tanda kematian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Salam dari Tim Perawatan Kesehatan.

Referensi.

  1. Chadha, P. Vijay. Catatan kuliah ilmu forensik dan toksikologi (Hand book of forensic medicine and toxicology Medical jurisprudence). Edisi kelima/ P. Vijay Chadha; alih bahasa, Johan Hutauruk; editor, Agnes Kartini. Jakarta: Penerbit Widya Medika. 1995.